**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terus mengintensifkan upaya untuk meningkatkan nilai ekspor produk hutan yang dihasilkan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Ristianto Pribadi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hutan kementerian tersebut, menjelaskan bahwa upaya untuk memperbaiki nilai ekspor akan diimbangi dengan langkah-langkah untuk meningkatkan nilai produk di pasar domestik. Langkah ini diharapkan dapat mendorong proses hilirisasi produk hutan. Pernyataan tersebut disampaikan saat pembukaan Pameran Komponen Manufaktur Furniture Internasional (IFMAC) dan Pameran Mesin Kayu Internasional (WOODMAC) di Jakarta baru-baru ini. Pribadi menekankan pentingnya pengelolaan hutan yang berkelanjutan sebagai bagian dari strategi nasional untuk memastikan bahwa hutan dapat berfungsi sebagai sumber bahan baku dalam memenuhi permintaan produk kayu, tanpa mengabaikan keseimbangan ekologi yang ada. Keberhasilan dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan sangat tergantung pada partisipasi semua pihak yang terlibat dalam rantai pasokan produk kayu hingga produk tersebut sampai ke tangan konsumen. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan jejak pelacakan, efisiensi, dan pelestarian sumber bahan baku. Pribadi menambahkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, permintaan terhadap produk yang dihasilkan secara berkelanjutan meningkat secara signifikan di pasar global. Hal ini sejalan dengan dorongan untuk transparansi dan produk yang ramah lingkungan. Akibatnya, pengelolaan rantai pasokan telah menjadi fokus perhatian dalam pengawasan, terutama untuk produk kayu. “Kita perlu bekerja sama untuk memastikan bahwa bahan baku yang digunakan oleh industri bersumber dari asal yang legal dan dikelola secara berkelanjutan,” ungkapnya. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa nilai ekspor produk hutan mencapai US$8,22 miliar hingga bulan Agustus. Dalam konteks IFMAC-WOODMAC, Pribadi menyatakan bahwa acara ini merupakan peluang berharga untuk mengeksplorasi teknologi dan inovasi yang dapat memperkuat hubungan antara hutan yang berkelanjutan dan industri pengolahan kayu. “Mesin dan peralatan industri terbaru akan meningkatkan efisiensi penggunaan bahan baku, mendorong penggunaan bahan baku yang ramah lingkungan, mengurangi limbah, dan mengatasi masalah perubahan iklim,” tambah Pribadi. ANTARA