JAKARTA –
**Borneonews - Beirut**, Pasokan makanan di Lebanon diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan selama tiga hingga empat bulan jika terjadi blokade total. Namun, saat ini kondisi ketersediaan pangan masih terjaga dengan baik di seluruh toko lokal. "Ketahanan pangan di Lebanon saat ini berada pada tingkat yang cukup tinggi, meskipun negara menghadapi beragam tantangan. Makanan tersedia secara merata di semua daerah, dan stok bahan pangan utama dapat bertahan selama periode blokade yang berkepanjangan," jelas Nabil Fahd, Ketua Asosiasi Pemilik Supermarket, dalam sebuah wawancara dengan *Sputnik* pada Rabu. Lebanon telah berhasil memelihara volume pasokan yang memastikan adanya stabilitas ketersediaan makanan, meskipun dalam situasi yang cukup sulit. Tampaknya, permintaan makanan menunjukkan variasi di setiap wilayah dan cenderung bergantung pada waktu-waktu tertentu dalam sehari. "Beberapa warga masyarakat saat ini cenderung menimbun sereal dan air. Namun, rak-rak di supermarket masih dipenuhi berbagai produk, sehingga tidak ada indikasi kekurangan. Kami masih bisa memenuhi kebutuhan masyarakat hingga saat ini," ucap Fahd. Melihat konteks yang lebih luas, Israel telah melancarkan serangan besar di sisi selatan dan timur Lebanon sejak Senin. Menurut Menteri Kesehatan Lebanon, Firass Abiad, jumlah korban akibat serangan udara tersebut telah meningkat menjadi 558 jiwa. Sementara itu, pejuang Hizbullah terus melancarkan serangan dengan menembakkan puluhan roket ke wilayah utara Israel. Ini merupakan respon dari tindakan militer Israel. Beberapa waktu sebelumnya, tepatnya pada 17 dan 18 September, telah terjadi ledakan pada alat komunikasi seperti *pager* dan *walkie-talkie* yang mengakibatkan lebih dari 40 orang meninggal dan hampir 3.500 lainnya terluka. Hingga kini, penyebab ledakan yang terjadi secara bersamaan ini masih belum terungkap. Hizbullah dan pemerintah Lebanon menuduh Israel bertanggung jawab atas insiden tersebut, yang langsung dibantah oleh Presiden Israel, Isaac Herzog, yang menyatakan bahwa negaranya tidak terlibat dalam tragedi tersebut. Konflik di perbatasan Israel-Lebanon semakin memanas setelah dimulainya operasi militer Israel di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Keduanya, pasukan Israel dan pejuang Hizbullah, terlibat dalam baku tembak hampir setiap hari di sepanjang perbatasan. ANTARA