JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Praktisi manajemen bencana, Fitriana Suprapti, menekankan pentingnya setiap pengelola gedung bertingkat di Jakarta dan area sekitarnya untuk memiliki dan memahami skema evakuasi yang efektif saat terjadi gempa bumi. Hal ini diungkapkan dalam sebuah diskusi daring yang diadakan bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang berjudul “Tips dan Trik Menghadapi Gempa Megathrust”. Fitriana Suprapti menjelaskan bahwa Jakarta adalah salah satu daerah dengan risiko tinggi terhadap gempa bumi, sesuai dengan analisis yang telah dipublikasikan oleh BNPB lebih dari lima tahun yang lalu. Namun, ia mencatat bahwa masih banyak gedung tinggi, termasuk di kota besar ini, yang tidak memiliki jalur evakuasi yang memadai. Ia mengkritik banyaknya gedung yang tidak menyediakan akses bebas hambatan ataupun ruang berkumpul yang aman bagi penghuninya. “Contohnya, masih banyak gedung yang hanya menempelkan tanda pada lokasi *assembly point*, namun tidak memungkinkan individu untuk berlindung di tempat tersebut saat terjadi gempa,” ujarnya. Dia menjelaskan bahwa keterbatasan ruang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pengelola gedung bertindak tidak tepat. Mereka cenderung langsung mengarahkan pengunjung untuk keluar ke jalan raya, tanpa mempertimbangkan jalur evakuasi yang telah ditetapkan sebagai bagian dari regulasi. Fitriana menegaskan bahwa gedung tidak hanya harus dibangun sesuai dengan standar nasional bangunan tahan gempa, tetapi juga harus menyediakan ruang berlindung yang memadai saat gempa dan setelah itu melakukan evakuasi. Penting juga untuk melibatkan petugas pemandu yang siap membantu, agar pengelola gedung tidak ikut panik dan melarikan diri saat bencana terjadi. Ia juga menilai bahwa pengelola gedung perlu memberikan perhatian serius pada skema evakuasi, termasuk melakukan simulasi teknik penyelamatan diri. Selain itu, perlu juga dilakukan pengecekan terhadap standar bangunan gedung yang tahan gempa, berdasarkan SNI 3-1726-2012. Semua langkah ini diharapkan dapat meminimalkan risiko dampak dari gempa megathrust yang kini kembali menjadi perhatian di tingkat nasional. ANTARA