JAKARTA –
**Borneonews - Istanbul**, Bangladesh telah meminta bantuan dari PBB dan ASEAN untuk menangani krisis yang melanda warga Rohingya. Negara ini mengusulkan diadakannya sebuah *konferensi untuk semua pemangku kepentingan* demi mencari solusi terhadap permasalahan yang sudah berlangsung lama ini. Dalam pandangan pemerintah Bangladesh, negara tersebut kini sudah mencapai tahap kritis dalam upayanya menampung pengungsi Rohingya, yang diakui sebagai salah satu kelompok pengungsi paling teraniaya di dunia. Muhammad Yunus, seorang penasihat senior dalam pemerintahan transisi Bangladesh, menyatakan bahwa Bangladesh kini merasa tertekan oleh jumlah pengungsi yang terus bertambah. Dalam pernyataannya di hadapan Sidang ke-79 Majelis Umum PBB di New York, Yunus menekankan pentingnya mengadakan konferensi yang tidak hanya bertujuan untuk mengevaluasi situasi yang ada saat ini, tetapi juga untuk menemukan solusi yang baru dan kreatif. Dalam konteks ini, Yunus mengungkapkan keprihatinan tentang meningkatnya ketegangan keamanan di sepanjang perbatasan, yang dapat berdampak lebih jauh bagi stabilitas wilayah tersebut. Ia mengimbau agar stakeholder internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB dan ASEAN, ikut serta dalam mencari jalan keluar dari krisis ini. Lebih lanjut, Yunus menyatakan bahwa lambatnya proses repatriasi untuk warga Rohingya telah menimbulkan hilangnya sumber daya manusia, baik bagi masyarakat Rohingya itu sendiri maupun bagi Myanmar. Ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi Myanmar dapat menyebar dan mempengaruhi negara-negara tetangga jika tidak segera ditangani. Menyoroti situasi yang tak kunjung membaik, Yunus mencatat bahwa sejak tujuh tahun lalu, tidak ada satu pun warga Rohingya yang dapat kembali ke tanah air mereka di Myanmar. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa pemulangan pengungsi tetap menjadi satu-satunya solusi jangka panjang untuk mengatasi krisis ini. Yunus juga mendesak agar komunitas internasional memberikan dukungan terhadap upaya keadilan dan akuntabilitas di hadapan kesewenang-wenangan yang dialami oleh warga Rohingya. Sejak Agustus 2017, sekitar 1,2 juta pengungsi Rohingya telah tinggal di Bangladesh setelah melarikan diri dari kekerasan militer di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Dalam beberapa pekan terakhir, Bangladesh bahkan telah menerima tambahan ratusan pengungsi Rohingya baru yang melintasi perbatasan. ANTARA