JAKARTA –
**Borneonews - Washington,** Sekitar 103 anggota parlemen Amerika Serikat meminta pemerintahan Presiden Joe Biden untuk melakukan penyelidikan independen terkait dugaan pembunuhan aktivis Aysenur Ezgi Eygi, yang diduga dilakukan oleh pasukan Israel di Tepi Barat yang diduduki pada awal bulan ini. Dalam sebuah surat resmi yang dikirimkan kepada Presiden Biden, Menteri Luar Negeri Antony Blinken, dan Jaksa Agung Merrick Garland pada hari Selasa, para anggota parlemen tersebut menekankan pentingnya penyelidikan yang menyeluruh, kredibel, dan transparan terhadap kematian Eygi. Mereka menyoroti bahwa, "Dari bukti yang ada, kami percaya bahwa Amerika Serikat harus secara independen menyelidiki apakah ini merupakan pembunuhan." Lebih lanjut, surat tersebut mencantumkan, "Mengabaikan tanpa adanya penyelidikan lebih lanjut hanya akan memberikan izin yang tidak dapat diterima kepada pasukan Israel untuk bertindak tanpa konsekuensi. Pertanggungjawaban harus dihadapi atas kematian Nona Eygi." Penyelidikan yang diminta tersebut diharapkan mencakup semua bukti yang ditemukan serta memberikan penjelasan mengenai bagaimana temuan tersebut dibuat, dalam bentuk laporan tertulis kepada keluarga Eygi. Surat tersebut ditandatangani oleh sejumlah anggota Kongres terkemuka, di antaranya Adam Smith, Pramila Jayapal, Rashida Tlaib, Barbara Lee, Jamaal Bowman, Ro Khanna, serta Senator Bernie Sanders dan Peter Welch. Aysenur Ezgi Eygi, seorang aktivis yang memiliki kewarganegaraan Turki-AS, kehilangan nyawanya akibat tembakan pasukan Israel pada 6 September saat mengikuti protes damai menentang pendirian permukiman ilegal Israel di dekat Nablus, Tepi Barat. Penyelidikan awal yang dilakukan oleh tentara Israel menunjukkan bahwa Eygi "sangat mungkin" terkena tembakan "secara tidak langsung atau tidak sengaja" yang ditujukan kepada provokator utama dalam protes tersebut. Namun, bukti yang didapat dari video dan keterangan saksi mata bertentangan dengan pernyataan resmi Israel. Laporan dari *The Washington Post* mengungkapkan bahwa Eygi ditembak lebih dari 30 menit setelah ketegangan mereda di Beita dan sekitar 20 menit setelah para pengunjuk rasa menjauh sekitar 182 meter dari jalan utama, menyimpang dari posisi pasukan Israel. Keluarga Eygi menyatakan keyakinan bahwa putrinya dibunuh dalam serangan yang terencana dan telah meminta pemerintah AS untuk melaksanakan penyelidikan independen yang serupa dengan yang dilakukan oleh pemerintah Turki. Ezgi Eygi dilahirkan pada tahun 1998 di Antalya, Turki, dan pindah ke Amerika Serikat bersama keluarganya saat masih bayi. Dia baru saja menyelesaikan studi di Universitas Washington pada bulan Juni dengan fokus pada psikologi, bahasa, dan budaya Timur Tengah. Eygi datang ke Tepi Barat sebagai sukarelawan untuk *International Solidarity Movement* (ISM) dengan tujuan mendukung dan melindungi para petani Palestina, namun naas, dia dibunuh oleh pasukan Israel hanya tiga hari setelah kedatangannya. ANTARA