**Borneonews - Washington**, Dalam sebuah pertemuan yang diadakan oleh para menteri G20, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, memberikan pernyataan penting pada tanggal 25 September. Ia menekankan urgensinya untuk mengubah lembaga internasional agar lebih inklusif, sebagai respons terhadap tantangan-tantangan kontemporer yang semakin kompleks.
Guterres menyampaikan bahwa terdapat kebutuhan mendesak untuk memiliki lembaga-lembaga global yang kuat, inklusif, dan sah. Hal ini, menurutnya, adalah kunci untuk menghadapi masalah yang ada di masa kini maupun masa depan. "Tata kelola yang fair dan representatif menjadi langkah awal yang penting dalam mereformasi lembaga-lembaga internasional yang lebih luas," tambahnya dalam pertemuan yang berlangsung di Markas PBB tersebut, yang juga bersamaan dengan pelaksanaan Sidang Umum PBB.
Lebih jauh, Sekretaris Jenderal PBB mengingatkan pentingnya peran negara-negara anggota G20 untuk memastikan bahwa Dewan Keamanan dapat menjadi lembaga yang benar-benar representatif. Ia menyoroti kenyataan bahwa terdapat kekurangan perwakilan dari wilayah Afrika, Asia-Pasifik, serta Amerika Latin dan Karibia. Dalam hal ini, ia juga mendorong penguatan peran Majelis Umum PBB dan Komisi Pembangunan Perdamaian, serta peningkatan fungsionalitas Dewan Ekonomi dan Sosial.
Guterres menambahkan, Prinsip yang serupa harus diterapkan pada arsitektur keuangan internasional. Saat ini, penting bagi struktur tersebut untuk dapat mencerminkan kondisi ekonomi global yang ada, dengan penekanan pada representasi yang lebih kuat dari negara-negara berkembang. Ia juga menyatakan komitmen PBB untuk memperkuat posisinya sebagai platform yang inklusif untuk dialog dan aksi nyata.
Sebagai langkah ke depan, Guterres mengungkapkan rencana PBB untuk menggelar pertemuan dua tahunan mulai tahun depan, yang bertujuan untuk meresmikan kolaborasi antara sistem PBB, G20, serta lembaga-lembaga keuangan internasional. Menurutnya, G20, sistem PBB, dan lembaga Bretton Woods seperti *International Monetary Fund* (IMF) dan Bank Dunia, saat ini tengah berhadapan dengan berbagai tantangan signifikan, termasuk ketidaksetaraan, pembiayaan pembangunan, krisis iklim, serta dampak dari teknologi baru.
Di semua aspek ini, mencapai kemajuan menjadi semakin sulit karena dunia kita semakin tidak berkelanjutan, tidak setara, serta sarat dengan ketidakpastian, tegas Guterres. Ia juga mencatat bahwa dalam situasi konflik yang terus berkecamuk, krisis iklim yang semakin mendesak, dan meningkatnya ketidaksetaraan, teknologi baru memiliki potensi yang besar baik untuk membawa manfaat maupun dampak negatif.
Di akhir penyampaian, ia menggarisbawahi pentingnya kerjasama antar lembaga global. "Kita harus beroperasi secara sinergis, bukan sekadar berjalur paralel atau bahkan saling bertentangan," tuturnya.
ANTARA
Sekjen PBB Soroti Pentingnya Reformasi Lembaga Global Inklusif
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Dana Bantuan Penanganan Karhutla Diharapkan Tepat Sasaran dan Berdaya Guna
Gerindra Barito Timur Dorong Kader Perkuat Peran di Tengah Masyarakat
Kualitas Udara Memburuk, Ratusan Warga Pangkalan Bun Manfaatkan Rumah Oksigen KIM?
Kapuas Masuk Tiga Daerah di Kalteng yang Jalani Verifikasi Lapangan Evaluasi PUG
Angka Kecelakaan Naik 10,4 Persen, Polres Kapuas Gelar Operasi Patuh Telabang Selama Dua Pekan
Yuas Elko Minta Agen dan Pangkalan Elpiji 3 Kilogram di Kalteng Diawasi
Komentar (0)
Memuat komentar…







