**Borneonews - Jakarta**, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah berupaya untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan (*renewable energy*) dalam sektor industri pemurnian mineral (smelter). Langkah ini diambil sebagai usaha untuk mengurangi emisi, mendukung transisi menuju energi bersih, serta membangun industri yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, dalam acara Green Initiative Conference 2024 yang berlangsung di Jakarta pada hari Rabu, menyampaikan bahwa terdapat perubahan signfikan dalam pandangan industri global yang kini lebih berorientasi pada keberlanjutan dan praktik ramah lingkungan. Ia menekankan, "Industri dan pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk di Indonesia, semakin menyadari pentingnya lingkungan. Sebelumnya, kita cenderung fokus pada keuntungan cepat tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan."
Salah satu tujuan dari upaya ini adalah untuk mencapai target ambisius dalam pengurangan emisi, sehingga Indonesia dapat merealisasikan Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat. Dalam rangka mencapai hal ini, Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah berencana untuk menyusun regulasi yang bertujuan untuk memanfaatkan energi baru terbarukan dalam industri smelter secara bertahap. Sebelumnya, sebagian besar industri ini masih mengandalkan batubara sebagai sumber energi listrik.
"Berdasarkan proyek di Weda Bay, industri hilirisasi yang mengolah nikel sedang dibangun, dengan kapasitas yang cukup signifikan, yakni sekitar 8-10 gigawatt," ujarnya. Menteri Bahlil juga menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan diskusi dengan pemilik smelter di Weda Bay. Mulai tahun 2025, proses pengolahan nikel di lokasi tersebut direncanakan akan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (*solar power plant*) yang dibangun di lahan bekas tambang. Targetnya, dalam lima tahun ke depan, pemanfaatan energi terbarukan di lokasi ini dapat mencapai lebih dari 50 persen.
"Puncaknya nanti pada tahun 2030, kita berharap minimal 60-70 persen dari proses produksi sudah bisa beralih ke energi baru terbarukan," tambah Bahlil. Selain itu, dia juga menekankan bahwa smelter-smelter yang hanya memproduksi Nickel Iron Pig (NPI) diwajibkan untuk menggunakan energi baru terbarukan, atau setidaknya energi berbasis gas bumi, meskipun ini membutuhkan investasi yang lebih besar.
"Meskipun biaya modal untuk membangun pembangkit listrik yang berorientasi pada energi baru terbarukan lebih tinggi, biaya tersebut dapat diimbangi dengan harga produk yang dihasilkan. Proses produksi melalui energi terbarukan umumnya memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang dihasilkan dari batubara atau sumber energi fosil lainnya. Dari perspektif ekonomi, tidak ada masalah," pungkasnya.
ANTARA
Pemerintah Dorong Penggunaan Energi Terbarukan di Sektor Smelter
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Hujan Perdana Banjarbaru Diwarnai Pohon Tumbang Akibat Angin Kencang
Kebakaran Hebat Hanguskan 4 Rumah dan 1 Masjid di Kotim
Saingi China, Pabrik Mobil Jepang Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
PDIP Dukung Revisi UU Peradilan Militer Pascaputusan MK
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Komentar (0)
Memuat komentar…







