BORNEONEWS, Tamiang Layang - Danau Jundrim menjadi saksi bagaimana tradisi kuno suku Dayak Maanyan, yang dikenal dengan nama Nikep, kembali hidup dalam kemeriahan Festival Nikep yang digelar oleh Pemerintah Desa Lalap bersama Karang Taruna setempat pada bulan September 2024 ini.
Nikep adalah aktivitas menangkap ikan dengan alat bernama Tanguk, berbentuk cekung seperti keranjang yang terbuat dari anyaman rotan lantung dan rotan saga. Tradisi ini dilakukan oleh nenek moyang suku Dayak Maanyan saat air sungai dan rawa mulai surut di musim kemarau.
Kaum perempuan, terutama para ibu, dengan Tanguk di tangan, beramai-ramai turun ke air. Tangguk ini, yang dirancang khusus untuk menangkap ikan, dimasukkan ke dalam air sambil ditarik pada sela akar pohon dan dedaunan, memerangkap ikan-ikan yang bersembunyi di antara rerimbunan.
Kepala Desa Lalap, Hendri, menceritakan bahwa Nikep sekedar tradisi menangkap ikan, tetapi juga membangun kekompakan, sikap gotong royong dan keakraban di antara warga.
“Nikep biasanya dilakukan oleh kaum perempuan atau ibu-ibu pada musim kemarau ketika air sungai atau rawa mulai surut, ini adalah tradisi yang mengikat masyarakat kita dengan alam, sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga," ujarnya, Kamis, 26 September 2024.
Tahun ini, Festival Nikep menjadi lebih meriah dengan kehadiran ratusan peserta, mayoritas kaum perempuan, yang berlomba-lomba menunjukkan keahlian mereka dalam menangkap ikan.
Teriakan kegembiraan bercampur tawa menggema di sepanjang tepian danau, menambah semarak suasana. Di tengah suara gemericik air dan gelegak lumpur, mereka berjuang bukan hanya untuk menangkap ikan, tetapi juga untuk menjaga agar warisan budaya ini tetap hidup.
“Festival ini adalah cara kami merawat dan memperkenalkan kembali budaya dan tradisi lokal suku Dayak,” ujar Hendri.
Menurutnya, festival ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga media edukasi bagi generasi muda Barito Timur tentang cara menangkap ikan secara tradisional yang ramah lingkungan.
Simon Stevins Oktavianus, Camat Patangkep Tutui, yang hadir dalam festival tersebut, memberikan apresiasi yang tinggi kepada penyelenggara. Baginya, Festival Nikep lebih dari sekadar acara tahunan. Ini adalah simbol semangat masyarakat dalam melestarikan budaya lokal di tengah gempuran modernisasi.
“Kami mendukung penuh kegiatan ini, terutama yang terkait dengan budaya,” ujarnya.
Simon juga mengungkapkan harapannya agar festival ini terus berkembang setiap tahunnya, menjadi lebih besar dan lebih meriah, dengan persiapan yang matang, baik dari segi fasilitas maupun akses menuju lokasi.
Festival Nikep hanya tentang menangkap ikan, namun merupakan perayaan identitas, sebuah pengingat bahwa di tengah perkembangan zaman, ada tradisi yang harus terus dijaga.
Di Danau Jundrim, setiap tahun, para ibu turun ke air, dengan tanguk di tangan, menghidupkan kembali ritual kuno ini, dan memastikan bahwa suara tawa dan teriakan kegembiraan mereka akan terus terdengar, membawa cerita tentang masa lalu ke masa depan. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









