BANDUNG –
**Borneonews - Bandung**, Pameran otomotif GIIAS Bandung 2024 diharapkan menjadi sebuah momentum yang dapat memperkuat pertumbuhan industri alat transportasi di Indonesia, dengan fokus khusus pada kendaraan yang minim emisi. Hal ini sejalan dengan kemajuan dalam industri otomotif secara global. Putu Juli Ardika, Plt Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika dari Kementerian Perindustrian, menekankan bahwa Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon. Komitmen ini dinyatakan dalam berbagai kebijakan nasional, termasuk target pencapaian *net zero emission* pada tahun 2026. "Harapan kami adalah GIIAS Bandung 2024 dapat berkontribusi terhadap percepatan pencapaian tersebut," ungkapnya saat acara berlangsung di Sudirman Grand Ballroom Bandung. Kementerian Perindustrian mendukung penerapan berbagai teknologi yang tepat guna, menyesuaikan dengan kondisi sumber daya dan kemampuan yang ada. Pendekatan ini menggunakan filosofi *right technology*, *right time*, dan *right usage*, yang diharapkan dapat menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan di sektor otomotif. Saat ini, tantangan yang dihadapi Indonesia adalah ketergantungan yang masih tinggi terhadap bahan bakar minyak. Hal ini menjadi isu penting dari sudut pandang ekonomi maupun lingkungan. "Oleh karena itu, pemerintah bersama semua pemangku kepentingan berupaya keras untuk mengurangi ketergantungan tersebut. Kami mendorong penerapan teknologi kendaraan ramah lingkungan, seperti kendaraan *hybrid*, *plug-in hybrid*, kendaraan listrik, serta mesin berbasis *flexi agent* yang dapat menggunakan bahan bakar alternatif," kata Putu. Provinsi Jawa Barat, di mana GIIAS berlangsung, menyumbang 40,7 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang berasal dari sektor industri otomotif. Dukungan untuk teknologi baru yang ramah lingkungan juga diperlihatkan oleh Citroen. Perusahaan otomotif tersebut memperkenalkan kendaraan listrik E-C3 Le Sportif dan SUV C3 Aircross Edition Aventure di acara tersebut. C3 Aircross Edition Aventure dilengkapi dengan mesin PureTech berkapasitas 1,2 liter yang menghasilkan tenaga 110 PS pada putaran 5.500 rpm serta torsi maksimum 205 Nm pada 1.750 rpm. Kendaraan ini diklaim sangat efisien dalam penggunaan bahan bakar sambil tetap menawarkan performa yang berdaya saing. Sementara itu, E-C3 Le Sportif didukung oleh motor listrik yang dapat menghasilkan tenaga 57 PS dengan torsi 143 Nm, memberikan akselerasi dari 0 hingga 60 km/jam dalam waktu 6,8 detik. Kendaraan ini dirancang untuk kenyamanan di berbagai kondisi jalan serta memiliki kabin kedap suara yang meningkatkan pengalaman berkendara, dengan jarak tempuh mencapai 320 km untuk setiap pengisian daya. CEO Citroen Indonesia, Tan Kim Piauw, menyatakan, "Kami membawa dua unit edisi spesial ini ke GIIAS Bandung untuk memenuhi minat masyarakat serta mengikuti tren dan kemajuan teknologi di sektor otomotif." Selain itu, Citroen berencana untuk memulai perakitan mobil listriknya di Indonesia, khususnya di Pulogadung dan Purwakarta, untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik yang diperkuat oleh pemerintah melalui berbagai insentif. Tan juga mengungkapkan bahwa Citroen Indonesia sedang mengajukan izin untuk mengikuti program insentif yang mensyaratkan komitmen dalam memproduksi secara lokal. "Kami akan segera memulai proses tersebut," katanya baru-baru ini. Perusahaan ini tengah berkoordinasi dengan pabrik milik Indomobil dalam persiapan untuk merakit model E-C3, yang saat ini masih diimpor secara utuh dari India. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah merevisi Peraturan Presiden mengenai percepatan penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai. Revisi tersebut mencakup penambahan insentif untuk mendukung penggunaan motor dan mobil listrik. Salah satu poin utama yang diubah adalah penurunan syarat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk kendaraan listrik. Perusahaan yang berkomitmen untuk melakukan lokalisasi produk akan memperoleh insentif untuk kebutuhan importasi mobil listrik dalam bentuk utuh. Apabila memenuhi syarat yang telah ditentukan, perusahaan akan mendapatkan insentif berupa penghapusan bea masuk dan pajak barang mewah. Selain itu, dengan memenuhi TKDN minimal 40 persen, perusahaan juga bisa mendapatkan insentif PPN yang dikurangi dari 11 persen menjadi hanya 1 persen. ANTARA