**Borneonews - Sentani** Pulau Papua di Indonesia dikenal sebagai daerah dengan kekayaan budaya dan bahasa daerah yang beragam. Untuk menjaga keberadaan bahasa-bahasa tersebut, terutama *bahasa daerah*, dibutuhkan upaya yang berkesinambungan.
Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, pada tahun 1986 tercatat sekitar 240 bahasa lokal di Papua yang kaya akan nilai budaya dan keanekaragaman. Di Kabupaten Jayapura, terdapat sembilan Dewan Adat Suku (DAS) yang tersebar di 139 kampung, lima kelurahan, dan 19 distrik. Setiap DAS memiliki tradisi serta bahasa lokal yang berbeda. Bahasa Sentani, sebagai salah satu bahasa ibu, menjadi yang paling umum digunakan oleh masyarakat setempat.
Pemerintah Kabupaten Jayapura berkomitmen untuk tidak hanya melestarikan, tetapi juga mempromosikan penggunaan Bahasa Sentani. Salah satu inisiatifnya adalah penerapan program Bahasa Sentani di 54 sekolah dasar, 30 sekolah menengah pertama, dan 15 sekolah menengah atas/kejuruan. Upaya ini dianggap penting untuk mencegah punahnya bahasa ibu yang kaya akan budaya tersebut.
Menurut Semuel Siriwa, Penjabat Bupati Jayapura, pendidikan di sekolah sebagai salah satu tempat belajar diharapkan dapat menjadi titik awal yang efektif dalam melestarikan berbagai aspek budaya, termasuk bahasa.
SD Negeri Abeale I Sentani adalah salah satu dari sekolah dasar di Kabupaten Jayapura yang mengimplementasikan pendidikan *muatan lokal* dalam Bahasa Sentani, sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Kepala sekolah, Rustina R Patandean, menjelaskan bahwa pendidikan ini membantu siswa mengenali dan mencintai kekayaan budaya daerah. Dengan peribahasa "Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung", siswa diharapkan dapat menghargai budaya lokal.
Komposisi siswa di sekolah tersebut berasal dari berbagai latar belakang suku, ras, dan agama, sehingga mengenalkan budaya dan tradisi lokal menjadi hal yang penting. Siswa dari Suku Jawa, Makassar, Bugis, Sumatera, Kalimantan, dan Biak dapat berkomunikasi menggunakan Bahasa Sentani dalam interaksi sehari-hari. Dengan cara ini, bahasa lokal berfungsi sebagai pemersatu generasi muda.
Selama dua tahun terakhir, program pendidikan muatan lokal Bahasa Sentani di SD Negeri Abeale I telah berhasil meluluskan sekitar 100 siswa yang mampu berbicara dalam bahasa daerah tersebut. Salah satu siswa, Angelis B Kongle, mengungkapkan betapa pentingnya pendidikan Bahasa Sentani dalam hidupnya sehari-hari.
Harapan para siswa adalah agar program pendidikan ini berkelanjutan, agar generasi muda, termasuk yang bukan asli Papua, mampu menggunakan Bahasa Sentani dengan baik. Penguasaan bahasa ibu dipandang sebagai cara untuk meningkatkan kedekatan sosial, yang berkontribusi pada ketahanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di Papua.
Pada tahap awal, pendidikan Bahasa Sentani berfokus pada penggunaan kata-kata dasar yang bisa digunakan sehari-hari, seperti "rene foi" (selamat pagi), "rai foi" (selamat siang), dan lainnya. Di sekolah, para siswa terlihat mencoba menggunakan Bahasa Sentani. Meskipun ada yang sudah lancar dan ada yang masih belajar, suasana saling mendukung tetap terjaga.
Saat upacara bendera, pengucapan teks Pancasila juga dilakukan dalam Bahasa Sentani, yang mencerminkan dua manfaat penting: penanaman nilai-nilai kebangsaan serta penghormatan terhadap perbedaan, termasuk penggunaan bahasa lokal.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Jayapura melakukan upaya pelestarian bahasa daerah melalui program Sekolah Adat Negeri Papua yang didirikan pada tahun 2017. Program ini menegaskan komitmen terhadap penghormatan dan pemeliharaan bahasa daerah sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional, sesuai dengan Undang-Undang Dasar.
Direktur Sekolah Adat Negeri Papua, Origenes Monim, menjelaskan bahwa lembaga ini berfokus pada penanaman nilai-nilai kewarganegaraan dan pemahaman Pancasila bagi generasi muda Papua. Dengan cara ini, mereka diharapkan dapat menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam konteks budaya ke Papua-an.
Program pendidikan di 54 SD, 30 SMP, dan 15 SMA/SMK dikelola oleh Sekolah Adat Negeri Papua. Para guru yang terlibat telah mendapatkan pelatihan khusus untuk mendalami Bahasa Sentani dan kembali ke sekolah mereka untuk mengajar. Di setiap pertemuan, siswa belajar Bahasa Sentani selama dua jam, yang terbukti sangat efektif dalam memperkenalkan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah Adat Negeri Papua juga tengah menyusun program muatan lokal lain terkait hubungan kekerabatan yang juga menggunakan Bahasa Sentani sebagai pengantar. Ini merupakan langkah lebih lanjut dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila melalui pendidikan dan pelestarian budaya.
ANTARA
Pelestarian Bahasa Sentani Melalui Pendidikan di Sekolah Papua
Bagikan:

JAYAPURA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Ribuan Pesepak Bola Muda Perebutkan Piala Ketua DPD RI
Trae Young Targetkan Wizards Bersaing ke playoff NBA
Penipu Galang Dana Karhutla Raup Rp8 Juta Dibekuk
Pertamina Tambah Pasokan BBM dan Operasional SPBU
Bawa Tongkat Komando Berisi Belati ke DPRD Kalsel, Pria 47 Tahun Diamankan Polisi
TNI-Polri Kedepankan Pendekatan Dialogis dalam Mengamankan Dogiyai
Komentar (0)
Memuat komentar…







