**Borneonews - Kebumen, Jawa Tengah**, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan pentingnya peran relawan Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (Sibat) dari Palang Merah Indonesia (PMI) dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat terhadap bencana.
Menurut Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Pangarso Suryotomo, relawan Sibat PMI berfungsi sebagai garda terdepan dalam upaya menciptakan ketangguhan bencana. Ia mengungkapkan hal tersebut saat menghadiri Latihan Gabungan Sibat PMI Tingkat Nasional III tahun 2024 di Kebumen pada hari Kamis.
Pangarso menjelaskan bahwa melalui kegiatan peningkatan kapasitas dalam bentuk latihan gabungan, keberadaan relawan Sibat PMI sangat berkontribusi dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap bencana. Peran serta para relawan ini diatur dalam Peraturan Kepala BNPB Nomor 17 Tahun 2011, yang menggarisbawahi bahwa relawan penanggulangan bencana adalah individu atau kelompok yang memiliki keahlian serta kepedulian, dan bersedia bekerja secara sukarela dalam menangani isu-isu terkait bencana.
Salah satu contoh konkret dari upaya tersebut adalah program Desa Tangguh Bencana (Destana), yang merupakan inisiatif berbasis pemberdayaan masyarakat. Program ini bertujuan untuk memberikan masyarakat pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan dalam mengelola risiko bencana secara efektif.
Ketangguhan terhadap bencana dipandang sebagai sebuah proses yang harus berkelanjutan. Untuk mencapai tujuan ini, kolaborasi dari berbagai pihak sangatlah penting. Selain mencangkup aspek kebencanaan, ketangguhan juga seharusnya mencakup berbagai dimensi lain, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Dalam konteks standardisasi nasional, Destana perlu untuk dipromosikan kepada relawan guna memastikan bahwa praktik peraturan yang baik dapat dicapai. Di samping itu, perlu ada keterpaduan antara praktik pembuatan kebijakan dan standardisasi yang berjalan secara paralel.
Eko Teguh Paripurno, perwakilan dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dan juga Komite Teknisi 13-08 BNPB, menambahkan bahwa terdapat enam perubahan signifikan dalam standardisasi Destana. Pembaharuan ini mencakup definisi Destana yang lebih menekankan pada prinsip dan indikator yang berfokus pada pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim di tingkat desa.
Perubahan lainnya meliputi penyesuaian SNI yang hanya berlaku pada tingkat desa. Selain itu, terdapat pengaturan indikator ketangguhan desa berdasarkan tiga tingkatan: pratama, madya, dan utama. Penilaian ketangguhan desa juga ditingkatkan dengan mempertimbangkan aspek bencana terkait iklim serta penilaian yang mengikuti Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030.
Sosialisasi mengenai SNI Destana dihadiri oleh ratusan relawan Sibat PMI dari seluruh Indonesia sebagai bagian dari rangkaian kegiatan latihan gabungan tingkat nasional III tahun 2024.
ANTARA
Peran Penting Relawan Sibat PMI dalam Membangun Ketangguhan Bencana
Bagikan:

BOGOR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Aliansi Masyarakat Kalteng Melawan Sampaikan Poin Tuntutan
DPKP Kotim Serahkan STD-B kepada Desa Bukit Indah, Data Pekebun Sawit Swadaya Diperkuat
Bobon Santoso Sajikan 3.000 Porsi Makanan untuk Petugas dan Warga Terdampak Karhutla di Tumbang Nusa
Jejak Kreativitas Penulis Kalteng Terabadikan dalam Buku Jejak Tutur di Punggung Aksara
Puncak BIK 2026 di Kobar, Pemkab Dorong Akses Keuangan Menjangkau UMKM hingga Desa
Gubernur Kalteng Ajak Tokoh Agama Perkuat Pesan Perdamaian
Komentar (0)
Memuat komentar…







