**Borneonews - Jakarta**, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk menghadapi tantangan yang timbul akibat perubahan iklim, terutama terkait dengan meningkatnya permukaan air laut. Kerjasama ini sangat diperlukan guna memastikan keberlanjutan negara-negara kepulauan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Retno menyatakan bahwa dampak dari kenaikan permukaan laut dan pencairan gletser dapat berpengaruh luas terhadap negara-negara kepulauan. Pernyataan ini disampaikan dalam Pertemuan Tingkat Tinggi yang bertajuk *United by Water*, yang membahas isu-isu terkait air global. Acara ini berlangsung di New York pada tanggal 25 Juli, di tengah Sidang ke-79 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ia menambahkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak pada peningkatan permukaan air laut, tetapi juga menyebabkan gangguan pada sumber air tawar dan mengubah pola cuaca. Sebagai konsekuensinya, perubahan tersebut memengaruhi ekosistem, ketahanan pangan, dan kesehatan manusia di berbagai belahan dunia.
Menyikapi kondisi ini, Menlu Retno mengajak komunitas internasional untuk segera mengambil langkah-langkah praktis dan mendesak dalam menangani dampak yang ditimbulkan oleh perubahan iklim. Menurutnya, mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim perlu dilakukan secara bersamaan agar dapat memberikan hasil yang efektif.
Retno turut menekankan perlunya komitmen politik yang kuat untuk mendukung inovasi dan tindakan nyata dalam menghadapi perubahan iklim. Ini termasuk memperluas akses pembiayaan inovatif untuk program-program yang berfokus pada air dan iklim, serta meningkatkan pendanaan untuk inisiatif-inisiatif tersebut.
Ia juga menyerukan agar komunitas internasional mendukung pengelolaan air yang inovatif, dengan melaksanakan hasil-hasil kesepakatan dari Forum Air Dunia ke-10 yang digelar di Bali pada bulan Mei lalu. Komitmen Indonesia untuk menerapkan pengelolaan sumber daya air secara terpadu bertujuan untuk memaksimalkan potensi sumber daya air dalam berbagai sektor.
Retno menjelaskan bahwa Indonesia telah meluncurkan program berbasis komunitas yang berfokus pada pembangunan infrastruktur untuk air minum, sanitasi, serta pengelolaan air limbah. Program-program ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan No. 6, yang mengangkat isu air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan.
Selain itu, Retno juga meminta dukungan dari komunitas internasional untuk mendukung perannya yang akan datang sebagai Utusan Khusus PBB untuk Urusan Air, mulai 1 November 2024, setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Menteri Luar Negeri RI.
ANTARA
Kerja Sama Internasional Penting Hadapi Dampak Perubahan Iklim
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Karhutla di Teluk Palinget Kapuas Dekati Kawasan Pemakaman
Protes Besar Guncang Prancis, Macron Belum Tetapkan Keadaan Darurat
Mobil Tabrak Bundaran, Kasatlantas Polres Kotim: Kurangi Kecepatan saat Kabut Asap
TNI AU Uji Jalan Tol Jadi Landasan Pesawat Tempur F-16 dan Super Tucano
Kalteng Jadi Prioritas Bantuan Karhutla, Pemerintah Fokus Lindungi Kesehatan Warga
Pemerintah Gelar GPM di 38 Provinsi untuk Tekan Gejolak Harga Pangan
Komentar (0)
Memuat komentar…







