JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Dinas Perlindungan Anak DKI Jakarta menekankan bahwa pengelolaan emosi yang baik di kalangan anak dapat menjadi langkah efektif dalam menurunkan tingkat kekerasan yang terjadi. Kepala Bidang Perlindungan Anak di Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Aswarni, menjelaskan bahwa kasus kekerasan terhadap anak di Jakarta, termasuk yang terjadi di lingkungan sekolah, cukup tinggi. Ia mengungkapkan, "Pengendalian emosi merupakan strategi penting untuk mengurangi kasus-kasus tersebut." Data terbaru menunjukkan bahwa pada periode Januari hingga September 2024, Dinas PPAPP DKI Jakarta mencatat sebanyak 650 kasus kekerasan di sekolah, yang mencakup berbagai tingkatan pendidikan, mulai dari TK hingga SMA. Dari angka tersebut, sekitar 33 persen di antaranya adalah kasus kekerasan psikis. Aswarni menjelaskan bahwa kekerasan psikis meliputi berbagai bentuk perilaku negatif, seperti perundungan, penggunaan kata-kata kasar, intimidasi, hingga tindakan yang memalukan korban di depan umum, semua hal ini dapat memberikan dampak buruk pada kondisi psikologis si anak. Berdasarkan hal tersebut, Aswarni menekankan tanggung jawab Dinas PPAPP untuk melakukan upaya pencegahan terhadap kekerasan pada anak. Salah satu caranya adalah dengan menyebarkan pengetahuan mengenai cara mengelola emosi, termasuk kemarahan. "Ini mungkin hanya sebuah stimulan. Semoga orang tua dan pihak sekolah dapat melanjutkan usaha ini, sehingga anak-anak dan para pendamping mereka bisa belajar untuk mengelola amarah dan emosi yang dirasakan," tambah Aswarni. Ika Putri Dewi, S.Psi, Psikolog dari Yayasan Pulih, juga menyampaikan pandangannya yang sejalan. Ia menjelaskan bahwa marah adalah emosi yang wajar bagi manusia, namun setiap individu perlu memahami pentingnya batasan dalam mengekspresikan emosi tersebut. "Kemarahan itu diperbolehkan, asalkan tidak disalurkan melalui tindakan yang menyakiti orang lain atau membahayakan diri sendiri. Ini adalah batasan yang harus dipahami," ungkap Ika. Lebih jauh, Ika memberikan beberapa strategi untuk membantu individu dalam mengelola emosi mereka. Salah satunya adalah dengan peka terhadap tanda-tanda munculnya kemarahan, yang bisa dipicu oleh perubahan hormonal, terutama pada remaja. Setelah mengenali tanda-tanda tersebut, individu seharusnya mencoba untuk memproses kemarahan dengan cara yang sehat. "Kemarahan itu harus diterima sebagai bagian dari emosi kita. Alih-alih mengabaikannya, kita bisa mencari cara untuk meredakannya secara sehat sebelum akhirnya mengendalikan emosi tersebut kembali ke keadaan netral," jelasnya. ANTARA