JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi zakat yang sangat signifikan. Ia menekankan pentingnya mengoptimalkan potensi tersebut pada tingkat pemerintahan daerah (pemda). Tito mengamati bahwa Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, memiliki kontribusi zakat yang besar. Sayangnya, potensi ini sering kali tidak sepenuhnya disadari dan dianggap biasa saja, atau dalam istilah *take it for granted*. Dalam sebuah pernyataannya di Jakarta, Tito menyebutkan, "Menurut beberapa literatur yang saya baca, Indonesia diperkirakan akan disalip oleh Pakistan dalam hal jumlah penduduk Muslim. Namun, hingga hari ini, Indonesia masih menjadi negara dengan populasi Muslim terbesar. Jika kita menggabungkan jumlah penduduk semua negara di Timur Tengah, Indonesia tetap lebih banyak." Pernyataan ini menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan pengumpulan dan distribusi zakat. Sebagai negara yang tengah berkembang, Indonesia memiliki semakin banyak warga kelas menengah yang mampu membayar zakat. Tito percaya bahwa ini memberikan peluang besar untuk mengoptimalkan pengelolaan zakat di dalam negeri. Dia juga menambahkan, Indonesia beruntung memiliki Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang didirikan dengan berbagai landasan hukum dan aturan di tingkat pemda untuk mengelola zakat. "Dalam hal ini, Baznas berperan sebagai lembaga struktural non-pemerintah yang dikoordinasikan oleh Kementerian Agama. Ini adalah sebuah kemajuan luar biasa dalam pengelolaan zakat. Namun, potensi tersebut belum tergali sepenuhnya," ungkap Tito. Dia menjelaskan bahwa dengan kerangka hukum yang ada, Baznas dapat berkolaborasi dengan pemerintah untuk meningkatkan pengelolaan zakat. Menurut Tito, kunci untuk mencapai surplus adalah memastikan bahwa pendapatan zakat lebih besar daripada pengeluaran. "Jika pendapatannya besar dan menghasilkan surplus, kita masih bisa menabung. Yang berbahaya adalah ketika pengeluaran melebihi pendapatan, karena itu berarti defisit," jelasnya. Mendagri kemudian mengajukan pertanyaan retoris, "Apakah Baznas telah memaksimalkan potensi pendapatan zakat yang dimiliki? Ini penting mengingat masih banyak warga kelas bawah yang memerlukan bantuan." Ia berharap pemerintah daerah dapat memanfaatkan potensi zakat ini semaksimal mungkin agar dapat memberikan dampak nyata kepada masyarakat. Tito mengajak semua pihak agar mengaktifkan pengelolaan zakat dan merencanakan dampak dari hasilnya. Ia menegaskan, "Pembicaraan hasilnya harus melibatkan pemerintah, dengan dua program utama: program pembangunan yang sejalan dengan konsep pembangunan pemda dan bantuan sosial." Sebagai tambahan, acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) ini mengusung tema *Sinergi Pengelolaan Zakat Inklusif untuk Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan dalam Rangka Sukses Astacita*. Dalam kesempatan ini, turut hadir Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, Ketua Baznas RI Noor Achmad, serta Penjabat Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik, bersama peserta yang berasal dari pimpinan Baznas di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. ANTARA