BANDUNG –
**Borneonews - Indramayu**, Panen padi organik yang dilakukan di lahan seluas seribu hektare di Indramayu, tepatnya di Desa Ujung Pendok Jaya, Ujung Jaya, dan Ujungaris, Kecamatan Widasari, serta Desa Taman Sari, Kecamatan Lelea, menjadikan kabupaten ini sebagai model nasional dalam pengembangan pertanian organik. Pejabat Sementara Bupati Indramayu, Dedi Taufik Kurohman, memberikan apresiasi kepada para petani yang berhasil menerapkan teknik penanaman padi dengan menggunakan *pupuk organik cair* yang dikembangkan oleh Kementerian Pertanian. Metode ini telah terbukti meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dedi Taufik menekankan pentingnya bersyukur atas potensi alam yang dimiliki kawasan ini. Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara petani, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dan pemerintah harus terus diperkuat. Sinergi ini dianggap sebagai kunci keberhasilan dalam program peningkatan produksi pertanian melalu penggunaan *pupuk organik cair*. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heriyanto, menjelaskan bahwa panen raya tersebut merupakan bukti nyata dari keberhasilan program pertanian seluas seribu hektare. Pada panen kali ini, produksi gabah tercatat mencapai 13,7 ton per hektare untuk varietas padi Ciherang. Sugeng menambahkan, angka ini menunjukkan peningkatan sekitar 50 persen dibandingkan dengan hasil tahun sebelumnya yang hanya berkisar antara 8 hingga 9 ton per hektare. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama antara Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP), Pemerintah Kabupaten Indramayu, dan formulator *Aminosan Gold Nutrisi (AGN)*. Hingga saat ini, total hasil produksi padi telah mencapai 1,1 juta ton, dan pemerintah memiliki target untuk meningkatkan angka tersebut menjadi 1,6 hingga 1,7 juta ton pada tahun 2024. Sugeng juga mengingatkan bahwa modal utama dalam bertani adalah kebersamaan, serta pentingnya bersinergi dengan pemerintah agar tidak terjebak dalam persaingan. Kepala BSIP Jabar, Rustam Massinai, menyampaikan bahwa upaya menuju pertanian yang ramah lingkungan tanpa penggunaan bahan kimia terus dilakukan. Saat ini, hasil produksi dengan campuran bahan kimia mencapai 6,7 ton, sementara ketika menggunakan separuh urea bisa menembus angka 9 hingga 10 ton. Ke depan, pihaknya berencana untuk menargetkan penggunaan bahan kimia menjadi 0 persen. Sugeng berharap bahwa dengan kebersamaan, penggunaan bahan kimia dalam pertanian dapat dihilangkan sepenuhnya, sehingga dapat mendorong pertumbuhan yang lebih baik. ANTARA