PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Mantan Ketua Umum (Ketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kalteng, Eddy Raya Samsuri mengkritisi prestasi Kalteng di PON Aceh-Sumut 2024.

Eddy menilai torehan perolehan medali pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh dan Sumatra Utara (Sumut) sangat turun drastis menjadi posisi 33 seluruh peserta PON.

Dia menjelaskan jika melihat torehan hasil prestasi olahraga Kalteng dari PON-PON sebelumnya, seperti PON 18 Tahun 2012 di Riau, PON 19 Tahun 2016 di Jawa Barat, PON 20 Tahun 2021 di Papua maka pada PON Tahun 2024 di Aceh & Medan ini posisi klasemen Kalteng sangat turun drastis.

"PON Aceh-Sumut Kalteng berada pada ranking 33. Pada PON sebelumnya Kalteng  yaitu di Jawa Barat dan di Papua, Kalteng berada pada posisi klasemen 26,” ujarnya, Kamis, 26 September 2024.

Eddy melihat dukungan anggaran untuk KONI Kalteng mengalami kenaikan sangat drastis dengan jumlah Rp.50 milliar. Menurutnya, dukungan ini belum pernah terjadi di periode sebelumnya dan menjadi ”rekor” dalam sejarah keberadaan KONI Kalteng selaku induk organisasi olahraga.

”Peningkatan dukungan anggaran dari APBD Provinsi untuk KONI tersebut mestinya diikuti pula dengan peningkatan prestasi pada ajang multi event nasional yaitu PON,” bebernya.

Dia membandingkan PON tahun 2024 dengan PON tahun 2021 di Papua, Kalteng menempati ranking 25 hanya dengan dukungan anggaran Rp 11 milliar.  

”Kalau PON Tahun 2021 di Papua, Kalteng mampu bertengger pada posisi 26 hanya dengan dukungan anggaran sekitar Rp. 11 M, mengapa pada PON Tahun 2024 ini, prestasi Kalteng malah drastis menurun ? ini menjadi pertanyaan besar publik dan masyarakat luas,” tegasnya. 

Eddy yang sempat membidangi kontingen Kalteng PON pada tahun 2021 di Papua menyarankan agar segera dilakukan evaluasi terhadap hasil torehan pada PON Aceh Sumut. Hal itu menurutnya, agar diketahui benang merah penyebab merosotnya prestasi olahraga Kalteng pada PON Aceh Sumut.

”Di organisasi KONI berdasarkan ketentuan atau regulasi yang merujuk pada AD/ART Koni, Evaluasinya melalui Forum Rakerprov yang pesertanya seluruh anggota KONI Kalteng yaitu Pengprov-Pengprov (Pengurus Provinsi) Cabor (Cabang Olahraga) dan Badan Keolahragaan Fungsional serta KONI Kabupaten atau Kota. Yang mesti dievaluasi diantaranya manajemen kepengurusan KONI Kalteng dan Pengprov cabor,” tegasnya.

Dia mempertanyakan proses rekruitmen dan pembinaan atlet apakah sudah benar tahapannya, termasuk perhatian terhadap cabor-cabor anggota KONI, sebab cabor-cabor dinilai sebagai ujung tombak dalam pembinaan atlet.

Hal berbeda disampaikan Sekretaris Umum KONI Kalteng, Ilham Busra. Sebelumnya ia menyampaikan dana PON sebesar Rp50 miliar itu kurang tepat.

Ia menjelaskan anggaran dana hibah ke KONI memang Rp50 miliar, namun digunakan untuk PON hanya Rp30 miliar. 

Ilham menjelaskan Rp30 miliar itu terbagi seperti persiapan pemusatan atlet dan keberangkatan kontingen. Selanjutnya Rp20 miliar untuk operasional KONI, bonus dan bantuan bagi cabang olahraga.

"KONI Kalteng menaungi 54 cabang olahraga dimana yang lolos PON 21 cabang olahraga, sedangkan sisanya 23 cabang olahraga tetap mendapatkan pembinaan," beber Ilham.

Sementara itu, Ketua Bidang Prestasi KONI Kalteng, Rasad Samuel menilai, apa yang telah dilakukan KONI Kalteng menyiapkan kontingen sudah maksimal.

Bahkan 21 cabang olahraga yang lolos PON juga sudah melakukan yang terbaik dalam meningkatkan kemampuan atlet, dimana ada pemusatan di luar daerah seperti dayung di Waduk Situ Cipule, Jawa Barat. Sebagian cabang olahraga menitipkan atlet di pemusatan latihan nasional (Pelatnas).

"Cabang olahraga sudah maksimal jangan disalahkan di tengah kekurangan sarana dan prasarana olahraga dimiliki tetap menyiapkan atlet dengan baik hanya keberuntungan masih belum berpihak ke Kalteng," tegas Rasad. (HERMAWAN DP/H)