JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Wakil Bupati Kepulauan Seribu, Muhammad Fadjar Churniawan, menekankan pentingnya pembangunan mitigasi bencana yang efektif melalui program pelatihan kesiapsiagaan. Hal ini bertujuan agar masyarakat lebih peka dan siap menghadapi berbagai potensi ancaman bencana yang mungkin terjadi. Fadjar menjelaskan bahwa peningkatan kesiapsiagaan masyarakat sangat penting, mengingat ancaman seperti gempa *megathrust*, tsunami, serta puting beliung senantiasa mengintai. Oleh karena itu, diperlukan upaya mitigasi yang terstruktur. Menurutnya, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa bumi yang berasal dari megathrust di Selat Sunda dapat mencapai magnitudo 8,7. Dengan adanya potensi gempa sebesar itu, Fadjar memproyeksikan bahwa Jakarta akan menghadapi dampak guncangan dengan tingkat intensitas antara VI-VII pada skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Ia menambahkan bahwa masyarakat di Kepulauan Seribu harus memahami dan bersiap untuk menghadapi kemungkinan bencana tersebut. Lebih lanjut, Fadjar menekankan bahwa keberadaan alat peringatan dini (*early warning system* atau EWS) untuk tsunami dan gempa bumi menjadi sangat krusial bagi wilayah Kepulauan Seribu. Sistem tersebut berfungsi untuk memberikan informasi awal kepada masyarakat mengenai kemungkinan tsunami yang terjadi usai gempa bumi. Sistem peringatan dini ini sangat dibutuhkan di Kabupaten Kepulauan Seribu, sehingga baik pemerintah maupun masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi berbagai risiko bencana. Kehadiran EWS diharapkan akan meningkatkan kesiapan Kepulauan Seribu untuk menghadapi ancaman tsunami, melindungi warga serta wisatawan, dan mengurangi dampak dari bencana yang terjadi. Fadjar mengingatkan bahwa sistem EWS juga berperan penting dalam memastikan keselamatan para wisatawan, dengan memberikan informasi yang cepat dan akurat mengenai potensi bahaya yang mungkin timbul. Dalam upaya memperkuat mitigasi bencana, pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu sebelumnya telah menyelenggarakan pelatihan penanganan kedaruratan, termasuk penanganan gempa bumi dan kebakaran. Pelatihan tersebut diikuti oleh 90 orang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Kepulauan Seribu. Dalam sesi pelatihan, peserta juga diberikan pemahaman tentang manajemen keselamatan kebakaran di gedung, yang sangat penting untuk meminimalisir risiko terjadinya bencana. Fadjar menyatakan bahwa untuk menjamin keamanan gedung, perlu dilakukan prosedur penanggulangan bencana, penyediaan rambu kebencanaan, serta peralatan keselamatan. Simulasi dari prosedur sistem penanggulangan bencana juga harus dilaksanakan. Melalui pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat memahami informasi yang telah disampaikan sehingga mereka mampu mengantisipasi dan menghadapi potensi bencana dengan lebih baik. ANTARA