JAKARTA –
**Borneonews - Belitung**, Program *Kota Tanpa Kumuh* (Kotaku) telah berhasil menangani masalah banjir sekaligus mengurangi kawasan kumuh di Kampung Amau, yang terletak di Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. Pencapaian ini menjadi angin segar bagi masyarakat setempat yang sebelumnya sering kali terjebak dalam kondisi lingkungan yang tidak ideal. Kepala Bidang Perumahan dan Permukiman Dinas PUPR Belitung, Masali, menjelaskan bahwa keberadaan Program Kotaku telah membawa perbaikan signifikan di Kampung Amau, khususnya di Kelurahan Parit, Kecamatan Tanjung Pandan. Ia mengungkapkan, "Alhamdulillah, awalnya kampung ini dalam keadaan kumuh, terletak di sebuah cekungan yang menjadi pusat banjir." Menurut Masali, pada tahun 2020, Kabupaten Belitung memiliki luas kawasan kumuh seluas 62,01 hektare. Namun, berkat pelaksanaan program yang berkelanjutan, angka tersebut menyusut menjadi 19,63 hektare pada Maret 2023. Hal ini menunjukkan progress yang baik dalam upaya rehabilitasi kawasan kumuh. Kampung Amau, yang dikenal sebagai salah satu area yang paling rentan terhadap banjir akibat posisinya yang berada di cekungan, mengalami perbaikan yang cukup mencolok. Frekuensi banjir yang sering melanda telah berkurang sejak program ini diimplementasikan. Dulu, genangan air bisa bertahan selama dua hingga tiga jam, terutama saat musim hujan dan air pasang. Kini, situasi tersebut telah membaik secara signifikan, di mana air banjir dapat surut hanya dalam waktu 30 menit setelah hujan berhenti. Dalam pelaksanaan Program Kotaku di Kampung Amau, kegiatan penataan area mencakup sekitar 17,29 hektare. Salah satu solusi yang diterapkan adalah pembangunan kolam retensi oleh Kementerian PUPR, yang berfungsi untuk menampung air hujan sementara. Selain itu, jalan juga dilebarkan dan ruang terbuka hijau diperkenalkan melalui program ini yang telah dilaksanakan sejak tahun 2021. Berkat upaya penanganan ini, ketinggian banjir yang sebelumnya mencapai 1,2 hingga 1,3 meter kini berkurang menjadi hanya 20 hingga 30 cm. Hal ini memudahkan masyarakat untuk menghadapi genangan air yang muncul. Dulunya, terdapat empat RW yang terdampak, dengan sekitar 140 kepala keluarga (KK) yang selalu kesulitan saat musim penghujan. Masali juga menambahkan, "Penyebab banjir di Kampung Amau terutama terjadi pada bulan-bulan tertentu, seperti Oktober, November, dan Desember, saat hujan beriringan dengan air pasang dari musim barat, sehingga air sulit untuk mengalir. Dengan adanya penanganan ini, kolam retensi berfungsi untuk menampung air sementara." Komitmen pemerintah daerah dalam merawat efisiensi kawasan yang telah ditata juga diutarakan oleh Masali. Dinas PUPR secara rutin membersihkan sampah dan tanaman liar di daerah tersebut agar tetap bersih dan tertata. Walaupun banyak kemajuan telah dicapai, Masali mencatat bahwa masih terdapat dua kawasan kumuh lainnya di Kabupaten Belitung, yaitu di Kelurahan Pangkalalang dan Lesung Batang, yang akan ditangani secara bertahap oleh pemerintah daerah. Masalah lain yang menjadi perhatian adalah sedimentasi dan pertumbuhan tanaman liar di Sungai Ciburik, yang merupakan aliran air utama di kawasan Kampung Amau. Penanganan isu ini melibatkan kerja sama antara pemerintah kabupaten dan provinsi. Setiap tahunnya, kegiatan pembersihan terhadap sedimentasi akan dilakukan secara berkala agar aliran air tetap lancar dan risiko banjir dapat diminimalkan. Di tengah pencapaian ini, Gatot, salah satu warga Kampung Amau, menyatakan kebahagiaannya atas adanya Program Kotaku. Ia mengaku, warga kini dapat menikmati fasilitas yang disediakan, seperti Taman Ciburik, di mana anak-anak dapat bermain dan ibu-ibu melakukan senam secara bersama-sama dalam jadwal yang telah ditentukan. Gatot menyampaikan, "Sebenarnya, perubahannya terlihat sangat positif, kebersihan lingkungan memberikan dampak yang baik. Di sini banyak manfaat, terutama bagi ibu-ibu yang senam hingga empat kali dalam seminggu. Tempat ini juga aman bagi anak-anak untuk bermain." Namun, ia berharap agar ada pengawasan rutin terhadap kebersihan dan keamanan fasilitas tersebut, terutama saat banyak pengunjung, seperti pada malam Kamis, Minggu, dan malam Senin. Dengan dukungan dari pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, diharapkan kawasan tersebut terus mengalami perbaikan dan menjadi lingkungan yang lebih layak huni. ANTARA