**Borneonews - Jakarta**, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia telah mengajukan permohonan resmi kepada UNESCO untuk mendapatkan status cadangan biosfer yang diakui untuk Raja Ampat, sebuah wilayah di Papua Barat, di bawah program *Man and Biosphere* (MAB).
Maman Tujaman, seorang peneliti dari BRIN yang juga menjabat sebagai ketua Komite Nasional Indonesia untuk Program MAB UNESCO, menyatakan bahwa Raja Ampat dikenal sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut yang paling unik di dunia. Ia menekankan bahwa wilayah ini memiliki potensi besar untuk menjadi model global dalam hal konservasi dan pembangunan berkelanjutan.
Proses pengajuan pengakuan dari UNESCO telah dimulai sejak tahun lalu, di mana berbagai konsultasi publik dan penyebaran informasi dilakukan untuk memperkuat dokumen permohonan yang diajukan oleh Indonesia. Tujaman juga menjelaskan bahwa setelah memperoleh status tersebut, pengelolaan wilayah akan melibatkan berbagai pihak, termasuk pejabat pemerintah, komunitas adat, sektor swasta, organisasi non-pemerintah, serta akademisi.
Ia menambahkan bahwa pengelolaan yang berbasis kearifan lokal akan tetap menjadi prioritas utama, disertai dukungan dari pemerintah daerah dan komunitas tradisional. Tujaman menegaskan pentingnya kolaborasi dari semua pemangku kepentingan dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup di Raja Ampat.
Selain itu, ia menggarisbawahi pentingnya status cadangan biosfer yang diusulkan. Selain memacu intensifikasi langkah-langkah perlindungan lingkungan, status ini diharapkan dapat membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat setempat untuk terlibat dalam kegiatan pariwisata ramah lingkungan dan perikanan yang menguntungkan secara ekonomi.
Tujaman pun menyatakan harapannya agar Raja Ampat dapat diakui sebagai cadangan biosfer oleh UNESCO pada Sesi ke-37 Dewan Koordinasi Internasional MAB di China tahun depan. Jika permohonan ini diterima, Raja Ampat akan menjadi cadangan biosfer pertama di wilayah Papua, Indonesia.
Saat ini, Indonesia telah memiliki tujuh cadangan biosfer yang diakui oleh UNESCO, yaitu Leuser, Siberut, Tanjung Puting, Takabone Rate, Lore Lindu, Bromo Tengger Semeru Arjuno, dan Komodo.
ANTARA
Raja Ampat Ajukan Status Cadangan Biosfer ke UNESCO untuk Konservasi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Tokoh Lintas Agama Kalteng Tekankan Kebersamaan Hadapi Kemarau dan Karhutla
Flick Lawan Mourinho Serasa Superman vs Batman
Kepala DLH Palangka Raya Tinjau Langsung Pengelolaan Sampah di Dua Kecamatan
Polri Pantau Kawasan Konservasi Perkuat Perlindungan Orang Utan
Bupati Kobar Bermalam di TNTP Pantau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Dana Rp240 Miliar Disalurkan untuk Tangani Karhutla di Kalbar
Komentar (0)
Memuat komentar…







