JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Rusia menegaskan bahwa mereka tidak dapat "dipaksa untuk berdamai" sesuai dengan keinginan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy. Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, pada Rabu, merespons pidato Zelenskyy di Dewan Keamanan PBB. Peskov menilai keengganan Zelenskyy untuk melakukan negosiasi sebagai "kesalahan fatal." Dalam pidatonya pada pertemuan Dewan Keamanan PBB, Zelenskyy menekankan bahwa peperangan antara Rusia dan Ukraina tidak akan dapat diakhiri melalui perundingan. Ia menekankan perlunya usaha untuk "memaksa Rusia untuk berdamai." Rusia, menurut Peskov, berkomitmen untuk perdamaian, namun dengan syarat bahwa keamanan negara tersebut terjamin dan misi operasi militer yang sedang berlangsung dapat terlaksana. Ia melanjutkan, "Dalam pandangan saya, sikap yang ditunjukkan (keengganan untuk mencapai perjanjian) adalah keliru dan merupakan kesalahpahaman mendalam yang akan mengakibatkan dampak bagi rezim di Kiev." Peskov juga menolak tuduhan dari Zelenskyy yang menyebut bahwa Rusia melanggar Piagam PBB. Ia menjelaskan bahwa Rusia bertindak sesuai dengan hukum internasional dan menegaskan bahwa Rusia menentang penerapan standar ganda dalam interpretasi hukum, yang sering ditunjukkan oleh Inggris dan Amerika Serikat. Ketika membahas situasi di Vuhledar, Ukraina, di mana terjadi bentrokan sengit baru-baru ini, Peskov menyebutnya sebagai "tren positif" bagi Rusia. Mengenai kesepakatan ekspor makanan yang diatur lewat Laut Hitam, Peskov mengungkapkan bahwa saat ini tidak ada dialog untuk melanjutkan kesepakatan tersebut, karena pihak ketiga dianggap telah mengabaikan tanggung jawabnya, terutama yang berhubungan dengan Rusia. Dalam konteks sejarah, Turki merupakan tuan rumah pertemuan antara menteri luar negeri Rusia dan Ukraina pada Maret 2022 di Antalya. Pertemuan ini membuahkan hasil dengan tercapainya kesepakatan penting terkait ekspor gandum melalui Laut Hitam. Namun, setelah perjanjian itu berakhir pada Juli 2023, Rusia memutuskan untuk tidak memperpanjangnya, merujuk pada pembatasan yang menghambat ekspor gandum Rusia. Terkait dengan peluncuran uji coba rudal balistik antarbenua oleh China, Peskov menyampaikan bahwa negara tersebut memiliki hak penuh untuk mengembangkan kekuatan militernya. Ia menjelaskan bahwa Rusia menghormati upaya China dalam hal ini dan menyebutkan adanya pertukaran informasi yang diperlukan antara kedua negara, termasuk melalui kementerian pertahanan. Sebelumnya, Kementerian Pertahanan China mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukan uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua yang berhasil mendarat di lokasi yang telah ditentukan di Samudra Pasifik. Beijing menyatakan bahwa negara-negara di kawasan tersebut telah diberitahu mengenai uji coba ini sebelum dilaksanakan. ANTARA