JAKARTA –
**Borneonews - New York** Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyerukan kepada semua peserta dalam pertemuan menteri luar negeri G20 untuk mengambil "sikap tegas" terhadap ancaman retorika nuklir yang dikemukakan oleh Rusia. Penyataan ini disampaikan pada Rabu, 25 September, dalam pidato yang berlangsung di sela-sela sesi ke-79 Majelis Umum PBB yang diadakan di New York. Sybiha menekankan pentingnya menanggapi secara serius ucapan Rusia mengenai senjata nuklir yang dinilai berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Ia menyatakan, "Saya mendesak semua peserta untuk menunjukkan sikap tegas terhadap retorika yang menciptakan ketakutan ini." Dalam konteks yang lebih luas, Ukraina telah menawarkan "jalan yang jelas menuju perdamaian" berdasarkan formula perdamaian yang diajukan oleh Presiden Volodymyr Zelenskyy pada pertemuan puncak G20 yang berlangsung tahun lalu di Indonesia. Namun, sebagai balasan, Ukraina sayangnya mendengar ancaman baru dari Rusia terkait senjata nuklir. Sybiha menjelaskan, "Alasan di balik pernyataan Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengenai senjata nuklir adalah untuk menakut-nakuti kita semua. Namun, selama beberapa tahun terakhir, kita telah menunjukkan bahwa ketakutan bukanlah solusi. Sebaliknya, kita harus semakin berani." Lebih lanjut, Ia menyatakan bahwa sangat tidak dapat diterima bila negara yang merupakan anggota tetap Dewan Keamanan PBB mengancam negara lain dengan kekuatan nuklir. Sybiha juga mengatakan, "Kita tidak boleh membiarkan Rusia merusak perdamaian dan keamanan internasional sambil mengintimidasi semua pihak dengan senjata nuklir." Menteri Luar Negeri Ukraina ini juga mencatat peran penting G20 dalam menghadapi situasi krisis semacam ini. Ia menyerukan agar Presiden Zelenskyy diundang untuk menghadiri pertemuan puncak G20 yang akan berlangsung di Rio de Janeiro, Brasil, pada bulan November mendatang. Kiev meminta masyarakat internasional untuk berperan aktif dan memberikan dukungan bagi pelaksanaan formula perdamaian yang diusulkan oleh Zelenskyy. Sebelumnya pada hari yang sama, Putin telah mengumumkan beberapa usulan untuk memperbarui doktrin nuklir Rusia, yang menyatakan bahwa "agresi" dari negara non-nuklir terhadap Moskow yang didukung oleh negara nuklir akan dikategorikan sebagai serangan kolektif. Ia juga menekankan hak Rusia untuk menggunakan senjata nuklir jika terjadi serangan terhadap negara tetangga mereka, Belarus. Hingga saat ini, otoritas Rusia belum memberikan tanggapan terhadap pernyataan yang disampaikan oleh Sybiha. ANTARA