JAKARTA –
**Borneonews - Washington** Amerika Serikat, bersama dengan Uni Eropa dan sembilan negara lainnya, telah menyerukan kepada Israel dan Lebanon untuk menyetujui gencatan senjata sementara. Panggilan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan kedua negara. Dalam pernyataan bersama yang dirilis, negara-negara tersebut—termasuk Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar—mengatakan bahwa situasi di Lebanon dan Israel telah mencapai titik yang "tidak dapat ditoleransi" sejak 8 Oktober. Kondisi ini dianggap menimbulkan risiko yang sangat besar, yang dapat berpotensi mengarah pada eskalasi regional yang lebih luas. Para pemimpin ini menegaskan bahwa ketegangan yang berlangsung tidak menguntungkan kedua belah pihak, baik masyarakat Israel maupun rakyat Lebanon. Mereka menegaskan pentingnya mencapai solusi diplomatik agar warga sipil dapat kembali ke rumah mereka dengan aman. Namun, mereka juga mencatat bahwa upaya diplomasi yang efektif sangat terganggu oleh meningkatnya ketegangan konflik. Oleh karena itu, mereka menyerukan gencatan senjata selama 21 hari di seluruh perbatasan Israel-Lebanon. Langkah ini diharapkan dapat memberikan kesempatan bagi proses diplomatik yang sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, serta pelaksanaan Resolusi 2735 terkait gencatan senjata di Gaza. Pernyataan tersebut meminta semua pihak terlibat, termasuk Pemerintah Israel dan Lebanon, untuk segera mendukung gencatan senjata sementara ini. Tujuannya adalah untuk memberikan peluang nyata bagi penyelesaian diplomatik yang berkelanjutan. Presiden AS Joe Biden dan Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya juga menyampaikan keprihatinan mengenai meningkatnya baku tembak yang berpotensi memicu konflik yang lebih luas dan merugikan warga sipil. Mereka mengungkapkan upaya bersama selama beberapa hari terakhir untuk menyerukan gencatan senjata, yang diharapkan dapat mendorong keberhasilan dialog dan menahan eskalasi lebih lanjut di perbatasan. Ketegangan di kawasan ini semakin meningkat seiring serangan udara oleh Israel ke Lebanon, yang dilaporkan telah menewaskan hampir 610 orang dan melukai lebih dari 2.000 orang lainnya, menurut informasi dari otoritas kesehatan Lebanon. Konflik antara kelompok Hizbullah yang berbasis di Lebanon dan Israel juga semakin intens sejak dimulainya serangan Israel terhadap Jalur Gaza, di mana lebih dari 41.400 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah kehilangan nyawa setelah serangan kelompok Hamas pada 7 Oktober. Masyarakat internasional telah memberikan peringatan kepada Israel agar tidak memperluas serangan ke Lebanon, mengingat kekhawatiran bahwa konflik di Gaza dapat meluas ke tingkat regional yang lebih luas. ANTARA