**Borneonews - Kendari**, Sebanyak 1.300 anggota kepolisian telah dikerahkan untuk mengamankan aksi demonstrasi damai yang dikenal sebagai *September Berdarah*. Demonstrasi ini diadakan untuk mengenang lima tahun tragedi yang merenggut nyawa dua mahasiswa Universitas Halu Oleo (UHO) saat melakukan protes menolak RUU KUHP di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.
Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polresta Kendari, AKP Picha Armedi, mengungkapkan bahwa pengamanan dilakukan melalui kerjasama dengan Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara serta Satuan Brimob di wilayah tersebut. Dalam pengaturan tersebut, Picha menyebutkan bahwa jumlah personel yang dikerahkan mencapai 1.300.
Seluruh personel tersebut ditempatkan di berbagai lokasi strategis di Kendari, yang diperkirakan akan menjadi titik fokus demonstrasi serta jalur yang akan dilalui para pengunjuk rasa. Beberapa titik tersebut antara lain adalah Polda Sultra, DPRD Sultra, Kantor Wilayah Kemenkumham Sultra, serta persimpangan jalan yang dianggap rawan.
Picha Armedi berharap agar demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa berjalan dengan damai, serta mampu menyampaikan aspirasi mereka secara tertib. Harapan itu disuarakannya untuk menghindari kemungkinan terjadinya situasi yang tidak diinginkan selama kegiatan berlangsung.
Di sisi lain, AKP Erwin dari Satuan Brimob Polda Sultra mengatakan bahwa pihaknya mengerahkan 250 personel dan peralatan sesuai standar operasional prosedur (*SOP*) dalam untuk mendukung pengamanan demonstrasi. Ia juga mengingatkan kepada para mahasiswa untuk menyalurkan aspirasi mereka dengan cara yang damai, tanpa melibatkan tindakan anarkis. Antisipasi terhadap terjadinya gesekan dalam aksi juga menjadi perhatian penting menurutnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa para mahasiswa dari Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Halu Oleo (UHO), Cipayung Kota Kendari, dan KBM Universitas Muhammadiyah Kendari secara bergantian mengunjungi Kantor DPRD Sultra untuk menyampaikan tuntutan mereka. Mereka memperingati kematian Randi dan Yusuf yang terjadi pada 26 September 2019, dan meminta kepada DPRD Sultra untuk segera mengusulkan pembangunan patung sebagai penghormatan kepada kedua mahasiswa tersebut sebagai pahlawan demokrasi di Kota Kendari.
Kegiatan demonstrasi itu berlangsung dalam suasana yang kondusif dan diterima langsung oleh Ketua DPRD Sultra, Abdurrahman Saleh.
ANTARA
Pengamanan Ketat 1.300 Polisi dalam Aksi September Berdarah Kendari
Bagikan:

KENDARI –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kepala DLH Palangka Raya Tinjau Langsung Pengelolaan Sampah di Dua Kecamatan
Polri Pantau Kawasan Konservasi Perkuat Perlindungan Orang Utan
Bupati Kobar Bermalam di TNTP Pantau Pemadaman Karhutla dan Kebutuhan Relawan
Dana Rp240 Miliar Disalurkan untuk Tangani Karhutla di Kalbar
Indeks Kualitas Udara Palangka Raya Capai 1.506, Masuk Kategori Berbahaya
Penyelundupan 65 Cartridge Diduga Etomidate di Rutan Salemba Digagalkan
Komentar (0)
Memuat komentar…







