JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam menghadapi dampak kenaikan permukaan laut yang disebabkan oleh perubahan iklim. Hal ini menjadi perhatian utama untuk memastikan kelangsungan hidup negara-negara kepulauan, termasuk Indonesia. Menurut Marsudi, fenomena kenaikan permukaan laut dan mencairnya gletser memiliki konsekuensi yang luas bagi negara-negara pulau. Pernyataannya disampaikan saat pertemuan tingkat tinggi yang bertajuk *United by Water*, yang berlangsung di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-79 di New York, pada hari Rabu, 25 September waktu setempat. Selain berdampak pada kenaikan permukaan laut, perubahan iklim juga menyebabkan gangguan pada sumber air tawar dan pola cuaca, yang pada gilirannya memengaruhi ekosistem, keamanan pangan, dan kesehatan di seluruh dunia. Oleh karena itu, Marsudi menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan yang mendesak dan konkret guna mengatasi dampak dari perubahan iklim. Ia menekankan bahwa upaya untuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim harus dilakukan secara bersamaan. Marsudi menambahkan bahwa terdapat kebutuhan akan kemauan politik untuk mendorong inovasi serta tindakan konkret dalam menanggulangi dampak perubahan iklim. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan memperluas pembiayaan inovatif untuk aksi terkait air dan perubahan iklim, serta meningkatkan pendanaan iklim. Lebih lanjut, ia mengajak komunitas internasional untuk mengembangkan agenda pengelolaan air yang inovatif. Ini termasuk pelaksanaan hasil kesepakatan pada Forum Air Dunia ke-10 (WWF) yang dilaksanakan di Bali pada bulan Mei lalu. Marsudi juga menekankan komitmen Indonesia dalam menerapkan pengelolaan sumber daya air secara terpadu, untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya air di berbagai sektor. "Indonesia juga telah meluncurkan program berbasis masyarakat yang bertujuan untuk mengembangkan infrastruktur air minum dan sanitasi, serta pengelolaan limbah," ujarnya. Program-program ini sejalan dengan Tujuan 6 Pembangunan Berkelanjutan (*Sustainable Development Goal 6*) yang berfokus pada isu air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan. Di samping itu, Marsudi meminta dukungan komunitas internasional untuk melaksanakan tugasnya sebagai Utusan Khusus PBB untuk Air yang akan dimulai pada 1 November 2024, setelah menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia. ANTARA