TAMIANG LAYANG –

BORNEONEWS, Tamiang Layang - Warga Desa Matabu di Kabupaten Barito Timur kembali mengeluhkan kondisi air Sungai Tauluh yang keruh dan berlumpur.

Saat Borneonews turun langsung ke RT 07, Kamis, 26 September 2024, terlihat jelas air Sungai Tauluh yang keruh dan tidak dapat digunakan. Biasanya pada sore atau pagi hari terlihat warga mandi atau mencuci pakaian di sungai tersebut. Namun dengan kondisi air seperti itu, warga menjadi enggan mandi di sungai.

Abdurrahman (60), warga RT 07 yang tinggal di bantaran Sungai Tauluh, mengungkapkan bahwa kondisi air yang berwarna coklat dan mengandung lumpur itu mulai terlihat sejak malam hari hingga siang ini.

"Memang sudah lama sungai ini keruh, sejak ada tambang batubara di hulu sungai, tapi kondisi yang parah seperti ini mulai tadi malam sampai sekarang," ujarnya saat diwawancarai pukul 16.30 WIB.

Abdurrahman mengatakan, keluarganya biasanya menggunakan air Sungai Tauluh untuk mandi dan mencuci pakaian. Sedangkan untuk kebutuhan konsumsi, mereka menggunakan air sumur.

"Sekarang yang kami minta pihak-pihak terkait baik dari pemerintah maupun perusahaan supaya mencarikan solusi bagaimana air sungai ini bisa kami gunakan kembali untuk kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Ketua RT 06 Desa Matabu, Rajudin, membenarkan apa disampaikan Abdurrahman. Menurut Rajudin, warga di RT yang dipimpinnya biasa menggunakan air Sungai Tauluh untuk mencuci, mandi dan kebutuhan air di musala.

"Waktu belum ada aktivitas perusahaan yang membuat sungai ini sering keruh bahkan warga ambil air di sini untuk memasak, tapi sekarang kalau keruh seperti ini terpaksa mereka minta air bersih di tetangga yang punya sumur," katanya.

Fajrin, Ketua RT 08, mengaku warga yang terdampak keruhnya air Sungai Tauluh di wilayahnya berjumlah 15 keluarga.

"Saya berharap pemerintah bisa memperhatikan betul kondisi sungai ini supaya airnya bisa jernih kembali dan bisa digunakan oleh warga karena tidak semua warga saya bisa menggunakan air sumur," ujarnya.

Menanggapi laporan warga terkait kondisi air Sungai Tauluh tersebut, Kepala Desa Matabu Juni Setiawan menjelaskan bahwa dalam berita acara pertemuan dengan perusahaan yang beraktivitas di hulu Sungai Tauluh dan sungai Matabu beberapa waktu lalu telah disampaikan bahwa dibutuhkan 40 titik sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga yang terdampak pencemaran sungai di RT 01, RT 02, RT 06, RT 07 dan RT 08. 

"Akan tetapi saya sudah menegaskan bahwa itu solusi jangka pendek, sedangkan solusi jangka panjang adalah normalisasi kondisi air sungai, jangan sampai perusahaan mencemari sungai," tegasnya.

Namun permintaan sumur yang menjadi solusi sementara pun hingga saat ini baru 7 titik sumur yang dibuatkan oleh beberapa perusahaan yang menyebabkan pencemaran Sungai Matabu dan Sungai Tauluh.

"Sudah jelas permintaan kami untuk solusi jangka pendek silahkan dibuatkan sumur tapi untuk jangka panjang aliran sungai ini harus dijaga seperti sediakala supaya air tidak keruh lagi dan warga bisa memanfaatkan air sungai," imbuhnya.

Borneonews telah meminta tanggapan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Barito Timur, Mishael terkait keluhan warga tersebut. Dia mengatakan DLH segera turun ke lapangan untuk memeriksa laporan warga tersebut setelah menerima laporan tertulis sebagai dasar untuk memeriksa perusahaan yang diduga melakukan pencemaran sungai. 

"Sudah saya perintahkan langsung bidang Pulbaket untuk merespons laporan warga," katanya. (AGUSTINUS BOLE MALO)