JAKARTA –
**Borneonews - Karawang**, Indonesia CARE dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Karawang melaksanakan layanan kesehatan gratis untuk mendukung masyarakat yang menjadi korban gempa di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Program ini diperuntukkan bagi warga yang mengalami berbagai masalah kesehatan dan luka akibat bencana. Mohammad Syahri, selaku Direktur Jaringan Relawan Indonesia CARE, menjelaskan bahwa proyek kolaborasi ini melibatkan seorang dokter, beberapa paramedis, serta relawan yang siap membantu. Menurutnya, aksi ini diinisiasi karena masih terdapat banyak daerah yang belum mendapatkan akses layanan kesehatan, khususnya di wilayah Kertasari. Dengan dukungan satu unit ambulans dari PWI Karawang dan relawan medis, mereka pun hadir untuk memberikan bantuan. Syahri juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan dari para donatur yang menyediakan obat-obatan untuk keperluan layanan kesehatan ini. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama tiga hari dan mendatangkan antusiasme luar biasa dari masyarakat yang datang untuk mendapatkan perawatan. Dalam keterangan lebih lanjut, Puteri Qotrunnada, Wakil Kepala Medis Respon Indonesia CARE, yang juga berada di lokasi acara, menyebutkan bahwa lebih dari 250 pasien telah dilayani dalam dua hari pelaksanaan. "Kami melakukan kunjungan langsung untuk menjangkau daerah yang belum terlayani oleh layanan kesehatan," ujarnya. Pada hari pertama, 24 September 2024, tim medis telah menyambangi warga yang mengalami luka robek yang memerlukan rujukan dengan ambulans. Selain luka robek, banyak keluhan kesehatan yang disampaikan oleh masyarakat, di antaranya trauma setelah gempa, nyeri akibat syaraf terjepit, kadar kolesterol tinggi, demam, sakit kepala, serta flu dan gatal-gatal. Di samping pelayanan kesehatan, Indonesia CARE dan PWI Karawang juga menyelenggarakan kegiatan psikososial atau *trauma healing* yang difokuskan terutama pada anak-anak yang terdampak. Sebelumnya, gempa berkekuatan magnitudo 4,9 yang disebabkan oleh Sesar Garut Selatan terjadi pada 18 September 2024. Gempa ini telah mengakibatkan dampak signifikan di 30 desa dalam 8 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat. Sekitar 45.325 jiwa dari 11.681 kepala keluarga tercatat terdampak, dengan 9.229 jiwa di antaranya harus mengungsi dan satu orang dilaporkan meninggal dunia. Dari sisi kerusakan bangunan, berdasarkan laporan Posko BNPB, sebanyak 6.126 rumah mengalami dampak. Dari jumlah tersebut, 894 rumah mengalami kerusakan berat, 1.696 sedang, dan 3.536 ringan. Dengan upaya ini, diharapkan masyarakat yang terdampak dapat mendapatkan perawatan dan perhatian yang mereka butuhkan. ANTARA