JAKARTA –
**Borneonews - New York City**, Indonesia mengangkat sejumlah pertanyaan terkait peran kepemimpinan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dalam upaya membangun perdamaian, terutama di tengah situasi yang semakin memburuk di Palestina. Dalam sebuah forum debat terbuka tingkat tinggi yang berlangsung di markas PBB di New York, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan, "Kami di sini untuk membahas kepemimpinan dalam menciptakan perdamaian. Namun, perdamaian tampaknya tidak ada bagi masyarakat Palestina." Kondisi yang mengkhawatirkan di Palestina, di mana sekitar 41 ribu orang dilaporkan kehilangan nyawa, jutaan lainnya terpaksa mengungsi, dan akses terhadap bantuan kemanusiaan terputus, seharusnya memicu refleksi mendalam terhadap kemanusiaan di kalangan komunitas global, tuturnya. Ia mempertanyakan, "Jika kita tidak bisa menerapkan alat yang diamanatkan oleh DK PBB untuk menjaga perdamaian, lalu apa yang tersisa dari kepemimpinan Dewan ini dalam menciptakan perdamaian?" Dalam upaya untuk memulihkan kredibilitas serta kepercayaan masyarakat terhadap DK PBB, Indonesia menawarkan rencana untuk melibatkan lebih banyak pihak dan mencari kepemimpinan yang lebih demokratis. "Indonesia menyerukan mekanisme yang lebih demokratis untuk pengambilan keputusan yang efektif, guna menghindari ketidakaktifan di tengah ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional," kata Marsudi menekankan. Dia mengakhiri pidatonya dengan penegasan bahwa dunia tidak perlu menunggu langkah-langkah untuk menciptakan perdamaian di masa depan, karena langkah-langkah tersebut seharusnya dimulai sekarang. Pada hari yang sama, Marsudi juga mengadakan pertemuan dengan Perwakilan Khusus Uni Eropa untuk Wilayah Teluk, Luigi Di Maio, guna membahas perkembangan terkini di Timur Tengah, khususnya mengenai Palestina dan Lebanon. Selama pertemuan tersebut, ia mengekspresikan keprihatinan terhadap eskalasi konflik yang terjadi di Lebanon seiring dengan agresi Israel di Jalur Gaza. Sejumlah wakil dari negara anggota PBB berkumpul di markas besar PBB di New York untuk menghadiri Pekan Tingkat Tinggi dalam Sesi ke-79 Sidang Umum PBB yang berlangsung dari 22 hingga 28 September 2024. ANTARA