**Borneonews - Jakarta**, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) berkomitmen untuk mengembangkan potensi tiga komoditas unggulan dari Desa Devisa yang terletak di wilayah selatan, Riau, dan Aceh. Langkah ini dilakukan melalui program *Special Mission Vehicle* (SMV) Icon.
Tiga desa yang menjadi fokus dari program ini adalah Desa Devisa Tenun di Palembang, Desa Devisa Sagu di Kepulauan Meranti, dan Desa Devisa Kopi Gayo di Aceh. Dengan meningkatnya potensi produksi dan permintaan global, kain tenun, sagu, dan kopi Gayo diharapkan dapat berfungsi sebagai pendorong baru dalam ekspor Indonesia. Selain itu, diharapkan juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat setempat.
Kepala Kanwil DJKN Sumatera Selatan, Jambi, dan Bangka Belitung dari Kementerian Keuangan, Ferdinan Lengkong, menekankan pentingnya perkembangan ini. Ia menyatakan bahwa capaian pemerintah dalam mendukung ekspor komoditas ini terlihat jelas dari data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan LPEI.
Pada tahun 2023, ekspor kain tenun mengalami lonjakan, dengan Arab Saudi menjadi tujuan utama yang meningkat sebesar 12,25 juta dolar AS. Negara-negara lain yang menunjukkan peningkatan signifikan mencakup Uni Emirat Arab (naik 10,71 juta dolar AS), Meksiko (naik 5,22 juta dolar AS), India (naik 4,72 juta dolar AS), dan Filipina (naik 1,97 juta dolar AS). Jenis kain yang paling banyak diekspor berasal dari benang filamen sintetik, dengan kontribusi 50,64 persen dari total ekspor.
Di sisi lain, nilai ekspor sagu Indonesia mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan, mencapai 134,40 persen year-on-year (yoy) pada tahun 2023. Peningkatan volume ekspor yang mencapai 164,86 persen justru didorong oleh adanya permintaan tinggi dari Tiongkok, Malaysia, Taiwan, Filipina, dan Singapura. Sagu menjadi semakin diminati di pasar global berkat sifatnya yang non-GMO dan bebas gluten, sehingga sangat menarik bagi konsumen yang peduli akan kesehatan.
Memasuki periode Januari hingga Juni 2024, nilai ekspor kopi Indonesia juga menunjukkan tren positif dengan peningkatan sebesar 10,79 persen (yoy), yang disebabkan oleh kenaikan harga kopi di pasar internasional. Negara-negara tujuan ekspor kopi yang mengalami peningkatan termasuk Thailand (naik 26,75 juta dolar AS), Filipina (naik 10,88 juta dolar AS), Malaysia (naik 9,02 juta dolar AS), Uni Emirat Arab (naik 6,38 juta dolar AS), dan Armenia (naik 4,53 juta dolar AS).
Ferdinan Lengkong meyakini bahwa produk unggulan seperti kain tenun Palembang, sagu dari Kepulauan Meranti, dan kopi Gayo yang diolah dari daerah Bener Meriah, Aceh, memiliki potensi yang besar untuk menembus pasar ekspor dalam dua tahun ke depan.
Kepala Departemen Jasa Konsultasi UKM LPEI, Nilla Meidhita, menjelaskan bahwa Program Desa Devisa bertujuan untuk mendorong ekspor produk lokal. Melalui inisiatif ini, diharapkan dapat meningkatkan devisa negara serta kesejahteraan masyarakat dengan memberdayakan koperasi dan UMKM. Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan dari LPEI, diharapkan produk-produk dari UMKM dapat memenuhi standar ekspor dan berkompetisi di pasar global.
Nilla menambahkan bahwa LPEI tidak hanya memberikan pengetahuan yang mendalam kepada peserta tetapi juga membantu mereka untuk menghadapi tantangan ekspor dengan lebih terstruktur dan profesional. Ini sekaligus mendukung pengembangan potensi komoditas desa agar bisa bersaing di tingkat internasional. Sejak 2020 hingga Agustus 2024, LPEI telah mencatat akumulasi 1.545 Desa Devisa yang tersebar di seluruh Indonesia, melibatkan sebanyak 134.918 petani, nelayan, pengrajin, dan masyarakat lainnya.
Ada 23 komoditas ekspor unggulan yang terkait dengan Desa Devisa, antara lain kopi, rumput laut, kakao, gula aren, dan produk kerajinan lokal. Desa Devisa Tenun Palembang melibatkan enam desa dan memiliki sekitar 20 pengrajin yang mempekerjakan sekitar 300 orang. Dengan kapasitas produksi yang mencapai 600 lembar kain setiap tahunnya, Desa Devisa Tenun Palembang tercatat memiliki omzet sebesar Rp1,3 miliar.
Selain itu, Desa Devisa Sagu dari Kepulauan Meranti terdiri dari enam belas desa yang memberdayakan lebih dari 6.000 petani. Dengan kapasitas produksi mencapai 1.000 ton per bulan, program ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk sagu di pasar internasional melalui peningkatan kualitas, diversifikasi produk, dan penerapan standar mutu global.
Sementara itu, Desa Devisa Kopi Gayo di Bener Meriah, Aceh, mencakup 220 desa dengan total lahan seluas 192 hektar, memproduksi sekitar 134,4 ton kopi dengan potensi penjualan mencapai Rp14,1 miliar. Untuk memperkuat daya saing dan memastikan keberlanjutan, Kementerian Keuangan, LPEI, dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah telah membentuk Koperasi Panca Gayo Aceh sebagai *off-taker* bagi kopi Gayo, yang bertujuan menembus pasar kopi dunia.
ANTARA
LPEI Dorong Ekspor Kain Tenun, Sagu, dan Kopi Gayo Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Shin Tae-yong Tekankan Pembinaan Usia Dini untuk Majukan Sepak Bola
Madura United Bidik 3 Poin saat Hadapi Persebaya
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Kebakaran Terjadi di Masjid Al-Muhajirin Cempaga Kotim
Ganda Campuran China Li/Huang Juarai Indonesia Masters 2026
Komentar (0)
Memuat komentar…







