PONTIANAK –
**Borneonews - Pontianak**, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bertekad untuk meningkatkan akses dan kualitas pendidikan vokasi, serta memastikan bahwa program ini relevan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini. Langkah ini diambil sebagai wujud komitmen Pemprov Kalbar dalam mendukung revitalisasi pendidikan vokasi, sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022. Dalam seminar bertajuk *Arah Kebijakan Pendidikan Vokasi di Masa Pemerintahan Mendatang*, Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Linda Purnama, menegaskan pentingnya inisiatif ini. Dia mengungkapkan bahwa dengan adanya peraturan tersebut, diharapkan mutu pendidikan vokasi dapat meningkat. "Inovasi dalam pendidikan dan pelatihan vokasi sangat esensial agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja yang selalu berubah," jelasnya. Linda mencatat bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah dan sektor industri menjadi krusial. Pemprov Kalbar melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan secara aktif mengembangkan kemitraan dengan berbagai perusahaan agar siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dapat memperoleh pengalaman kerja yang sesuai. Saat ini, Pemprov Kalbar telah menjalin 870 nota kesepahaman (*Memorandum of Understanding*) dengan perusahaan dan perguruan tinggi. Ia menegaskan, "Kemitraan ini adalah kunci untuk memastikan lulusan SMK memiliki keterampilan yang dibutuhkan di pasar kerja. Ini adalah tanggung jawab kolektif antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat." Di sisi lain, Linda juga mengakui terdapat tantangan yang harus dihadapi, seperti jumlah guru kejuruan yang masih terbatas, ketidakmerataan fasilitas praktik, dan dukungan dari dunia usaha yang belum optimal. Meskipun demikian, Pemprov Kalbar terus berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi pengajar, memperluas sarana praktik, serta memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak terkait. Menurut data yang terbaru, revitalisasi pendidikan vokasi di Kalbar menunjukkan hasil yang positif. Pada tahun 2022, dari total 23.669 lulusan SMK di Kalimantan Barat, sekitar 42,6 persen di antaranya langsung terjun ke dunia kerja, 24,7 persen memutuskan untuk berwirausaha, dan 21,76 persen melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada tahun 2023, tren positif ini berlanjut dengan presentase lulusan yang bekerja meningkat menjadi 44,9 persen, wirausaha menjadi 27,9 persen, dan angka pengangguran menurun menjadi hanya 1,4 persen. Linda juga menekankan pentingnya persiapan tenaga kerja yang terampil untuk memanfaatkan peluang kerja di sektor industri yang terus berkembang di Kalimantan Barat, terutama seiring dengan peresmian smelter PT BAI oleh Presiden Joko Widodo. "Kami berkomitmen agar lulusan pendidikan vokasi siap untuk mengisi posisi yang tersedia di industri yang sedang berkembang," tutupnya. ANTARA