JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI Hariyanto, mengungkapkan bahwa prajurit TNI yang ditugaskan dalam Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon siap memberikan dukungan untuk mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Lebanon agar dapat kembali ke tanah air. Dalam penjelasannya yang disampaikan dari Jakarta, Hariyanto menyatakan bahwa TNI telah mempersiapkan rencana kontingensi sebagai langkah antisipasi terhadap situasi darurat, termasuk di dalamnya langkah-langkah untuk evakuasi. Namun, proses evakuasi ini memerlukan persetujuan dari pimpinan UNIFIL, yaitu Force Commander UNIFIL yang saat ini dijabat oleh Letnan Jenderal Aroldo Azàro dari Angkatan Bersenjata Spanyol sejak tahun 2022. Kapuspen menegaskan, "Setiap langkah evakuasi untuk pengungsi yang berada dekat perbatasan Israel harus mendapat izin dari Force Commander UNIFIL, sedangkan untuk penarikan personel TNI hingga saat ini masih menunggu keputusan dari Force Commander UNIFIL." Pada hari yang sama, di Jakarta, sebuah rapat teknis diadakan yang melibatkan perwakilan dari Markas Besar TNI dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Rapat ini bertujuan untuk membahas situasi terkini di Lebanon serta merencanakan langkah-langkah evakuasi bagi WNI. Judha Nugraha, Direktur Pelindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemenlu RI, menyatakan bahwa pasukan TNI yang bertugas di UNIFIL akan diterjunkan untuk membantu dalam evakuasi, seandainya konflik antara Lebanon dan militer Israel (IDF) semakin meningkat. Saat ini, terdapat sekitar 155 orang WNI yang tinggal di Lebanon, mayoritas di antaranya adalah mahasiswa dan mereka yang menikah dengan warga Lebanon. Konflik antara Israel dan Lebanon telah meruncing, dimulai dengan serangan militer Israel terhadap wilayah Lebanon yang dilancarkan awal pekan ini dengan alasan untuk menargetkan kelompok Hizbullah. Serangan tersebut dilaporkan telah menyebabkan hampir 570 orang meninggal, lebih dari 1.800 warga sipil terluka, dan menyebabkan puluhan ribu orang mengungsi dari tempat tinggal mereka. Ketegangan antara Israel dan Lebanon telah berlangsung sejak Israeldampak dari serangan terhadap Palestina usai peristiwa yang terjadi pada 7 Oktober 2023. Situasi ini pun meluas hingga mencapai perbatasan Israel-Lebanon, termasuk di daerah yang dikenal sebagai *Blue Line*, yang merupakan garis demarkasi pemisah antara kedua negara. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut telah menetapkan status Siaga 1 bagi seluruh WNI di Lebanon. Kemenlu RI juga telah mengeluarkan saran perjalanan (*travel advisory*) yang menganjurkan warga negara Indonesia untuk menunda perjalanan mereka ke Lebanon dan Israel. Sejak penetapan status Siaga 1 pada bulan Agustus 2024, KBRI telah berhasil memfasilitasi kepulangan 25 WNI dari Lebanon menuju Indonesia. Selain 155 WNI yang tinggal di Lebanon, terdapat juga lebih dari 1.000 prajurit TNI yang berpartisipasi dalam misi UNIFIL. Mereka diorganisir dalam berbagai unit, seperti Maritime Task Force (MTF), Satgas Batalyon Mekanis TNI (INDOBATT), Satgas Pendukung Markas/Force Headquarter Support Unit (FHQSU), Satgas Indo Force Protection Company (FPC), Satgas Koordinasi Sipil-Militer/Civilian Military Coordination (CIMIC) TNI, Satgas Military Community Outreach Unit (MCOU), dan Satgas Level 2 Hospital. Sebagian besar prajurit TNI ini menjalankan tugas di darat, sedangkan Satgas MTF bergerak di wilayah laut. Menyikapi eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon, Satuan Tugas MTF TNI Kontingen Garuda XXVIII-O/UNIFIL pada hari Selasa, 10 September, melaksanakan latihan untuk situasi kedaruratan yang mencakup simulasi evakuasi lewat jalur laut. Kegiatan latihan ini diikuti oleh para pengawak KRI Diponegoro-365 yang bertugas di Lebanon, dan juga mencakup materi mengenai pertahanan pangkalan, tindakan antisabotase bawah air, serta prosedur embarkasi dan debarkasi. Selain itu, perlindungan pasukan (*force protection*) juga menjadi bagian penting dari latihan tersebut. ANTARA