MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Staf Khusus Bidang Perumusan Kebijakan Fiskal Sektoral di Kementerian Keuangan, Titik Anas, mengungkapkan bahwa terjadinya penurunan pada indeks manajer pembelian atau *purchasing managers index* (PMI) selama dua bulan berturut-turut disebabkan oleh menurunnya permintaan. Dalam sebuah acara di Mataram yang berjudul ALCo Regional NTB, Titik menjelaskan bahwa terdapat banyak faktor yang memengaruhi pergerakan PMI. Beberapa dari faktor ini berada dalam kendali pemerintah, sedangkan yang lainnya tidak. Ia juga menyoroti kemungkinan bahwa para pengusaha memilih untuk menunggu hingga pemilu selesai sebelum melakukan belanja yang signifikan. PMI berfungsi sebagai indikator jangka pendek yang memberikan gambaran mengenai tren ekonomi di sektor manufaktur. Umumnya, manajer di sektor ini akan melakukan pembelian ketika terdapat permintaan yang cukup kuat. Data terbaru menunjukkan bahwa pada Agustus 2024, PMI manufaktur Indonesia tercatat sebesar 48,9 poin, menurun dari level 49,3 poin yang hadir pada bulan sebelumnya. Selama tiga tahun terakhir, di mana sektor ini mengalami perkembangan yang positif, PMI manufaktur kini menghadapi tantangan yang menciptakan kinerja kurang memuaskan dalam dua bulan terakhir. Menyikapi hal ini, Titik menegaskan bahwa pemerintah sedang mengambil berbagai langkah untuk memulihkan posisi PMI agar kembali berada dalam zona ekspansif. Upaya pemerintah mencakup memberikan bantuan untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi para pengusaha terkait dengan aspek produksi. Selain itu, pembangunan kawasan ekonomi khusus menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kapasitas produksi, tidak hanya terbatas pada konsumsi domestik namun juga untuk tujuan ekspor. Titik juga menjelaskan bahwa insentif fiskal terus diberikan, tidak hanya untuk mendukung sektor manufaktur tetapi juga sektor-sektor lain yang mendapat prioritas. Ia menyimpulkan, "Pemerintah harus terus memberikan bantuan, intervensi, dan fasilitasi agar proses produksi tetap berjalan dan mengalami pertumbuhan." ANTARA