JAKARTA –
**Borneonews - Moskow**, Belanda telah mengambil langkah penting dengan mengalokasikan dana bantuan sebesar 3 juta euro, yang setara dengan Rp50,5 miliar, untuk memenuhi kebutuhan pangan anak-anak di Jalur Gaza. Keputusan ini diumumkan melalui pernyataan resmi pemerintah yang dirilis pada hari Kamis. Bantuan ini ditujukan sebagai respons darurat bagi anak-anak kecil yang sangat membutuhkan di Jalur Gaza. Pemerintah Belanda menginformasikan bahwa dana tersebut akan disalurkan melalui *UNICEF* (Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa), yang memiliki rekam jejak dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Pengumuman tersebut disampaikan oleh Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Kerjasama Pembangunan Belanda, Reinette Klever, di forum Sidang Umum PBB yang berlangsung di New York. Dalam kesempatan itu, Menteri Klever juga mengungkapkan komitmen Belanda untuk memberikan kontribusi tahunan kepada Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat, *UNRWA*, yang akan dilakukan pada bulan Januari mendatang. Pemerintah Belanda menegaskan betapa pentingnya peran organisasi internasional ini dalam memberikan bantuan di tengah situasi krisis kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza, di mana banyak warga yang mengalami kekurangan makanan. Kondisi di wilayah tersebut semakin memprihatinkan pasca serangan besar-besaran yang diluncurkan oleh Israel setelah serangan roket yang fantastis dari Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut memicu aksi dari kelompok pejuang Hamas, yang berhasil menembus wilayah perbatasan dan menyerang warga sipil serta personel militer, membawa lebih dari 200 sandera sebagai bagian dari serangan tersebut. Angka kematian akibat konflik ini diperkirakan mencapai sekitar 1.200 orang. Sebagai respons, Pasukan Pertahanan Israel meluncurkan Operasi Pedang Besi yang menyasar berbagai lokasi di Jalur Gaza, termasuk target sipil. Selain itu, Israel mengimplementasikan blokade total, menghentikan semua pasokan air, listrik, bahan bakar, makanan, dan obat-obatan ke kawasan tersebut. Sejak dimulainya serangan Israel pada 7 Oktober, jumlah korban jiwa di Jalur Gaza telah meningkat drastis, melampaui angka 41.400 orang, dan lebih dari 96.000 orang mengalami luka-luka. Jalur Gaza kini terbelah menjadi dua wilayah, utara dan selatan, dengan operasi militer Israel yang bergerak menuju Rafah, yang dianggap sebagai markas terakhir bagi Hamas. Keadaan ini menciptakan tantangan besar bagi komunitas internasional dalam upaya memberikan bantuan yang dibutuhkan untuk meringankan penderitaan rakyat Gaza. ANTARA