JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Meutya Hafid, memberikan dukungan terhadap rencana pemerintah untuk mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Lebanon. Dukungan ini muncul seiring dengan meningkatnya ketegangan akibat serangan militer Israel sejak awal pekan ini. Meutya menekankan bahwa perlindungan terhadap WNI harus tetap menjadi prioritas utama bagi pemerintah. Ia memberikan apresiasi atas respons cepat yang diambil oleh Kementerian Luar Negeri, yang berkoordinasi dengan TNI untuk merencanakan proses evakuasi. Dalam situasi yang tidak stabil di Lebanon, Meutya mengingatkan agar pemerintah berhati-hati saat merumuskan rencana evakuasi. Ia menyoroti bahwa kondisi di Lebanon mungkin dapat mengalami perubahan yang semakin memburuk. "Saya percaya pemerintah akan mengambil langkah dengan hati-hati. Kementerian Luar Negeri kini bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk TNI dan Polri, karena evakuasi dalam kondisi perang bukanlah hal yang mudah," ujarnya saat menghadiri diskusi di Pusat Kebudayaan Amerika Serikat di Jakarta. Menyinggung tentang informasi mengenai kemungkinan penarikan pasukan TNI yang saat ini bertugas sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL), Meutya berpendapat bahwa misi perdamaian sebaiknya tetap berjalan. Menurutnya, peran TNI dalam misi ini justru menjadi lebih penting seiring dengan meningkatnya konflik yang terjadi. Rapat teknis yang diadakan di Markas Besar TNI dan Kementerian Luar Negeri di Jakarta baru-baru ini membahas situasi terkini di Lebanon dan rencana evakuasi WNI. Direktur Pelindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri, Judha Nugraha, menginformasikan bahwa pasukan TNI yang tergabung dalam UNIFIL kemungkinan akan dikerahkan untuk membantu evakuasi jika eskalasi konflik antara Lebanon dan Israel semakin meningkat. Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayor Jenderal TNI Hariyanto, juga menambahkan bahwa para prajurit TNI yang sedang bertugas dalam UNIFIL siap untuk membantu mengangkut WNI kembali ke tanah air. Namun, semua rencana evakuasi tersebut harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari pimpinan UNIFIL, yang saat ini dijabat oleh Letnan Jenderal Aroldo Azàro dari Angkatan Bersenjata Spanyol. Judha melaporkan bahwa saat ini terdapat 155 WNI yang tinggal di Lebanon, sebagian besar di antaranya adalah mahasiswa dan mereka yang menikah dengan warga Lebanon. Selain 155 orang WNI tersebut, terdapat juga lebih dari 1.000 anggota TNI yang tergabung dalam berbagai satuan UNIFIL, termasuk Maritime Task Force (MTF) dan Satgas Batalyon Mekanis TNI (INDOBATT). Serangan militer Israel ke Lebanon dimulai sejak awal pekan ini dengan target utamanya adalah kelompok Hizbullah. Akibat serangan ini, pemerintah Lebanon melaporkan lebih dari 500 korban jiwa dan lebih dari 1.800 orang terluka, serta menyebabkan puluhan ribu warga terpaksa mengungsi. Ketegangan antara Israel dan Lebanon telah berlangsung sejak Israel melancarkan serangan ke Palestina setelah insiden pada 7 Oktober 2023, dan konflik ini meluas hingga ke perbatasan Israel-Lebanon. Dalam langkah tanggap, KBRI Beirut telah menyatakan status Siaga 1 untuk WNI di seluruh wilayah Lebanon dan mengeluarkan anjuran *travel advisory* agar warga negara Indonesia menunda perjalanan ke Lebanon dan Israel. Sejak penetapan status Siaga 1 pada bulan Agustus 2024, KBRI telah berhasil memfasilitasi kepulangan 25 WNI dari Lebanon ke Indonesia. ANTARA