KUPANG –
**Borneonews - Labuan Bajo**, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari Desa Wisata Siru baru-baru ini mengikuti pelatihan mengenai keamanan dan keselamatan di destinasi wisata. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, bekerja sama dengan Badan Pengelola Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) dan Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat Desa Wisata Siru dalam menghadapi berbagai risiko yang mungkin muncul di lokasi wisata. Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Frans Teguh, menekankan pentingnya persiapan yang matang untuk mencegah potensi kekacauan di destinasi wisata, sehingga dapat memberikan perlindungan bagi para pengunjung. Pelatihan ini, yang mengangkat tema mitigasi risiko, merupakan bagian dari program Fasilitasi Masyarakat Desa Wisata (Fasmadewi) yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat. Desa Wisata Siru berada di Kecamatan Lembor dan telah resmi diakui sebagai desa wisata sejak tahun 2021. Desa ini memiliki berbagai potensi menarik, termasuk agrowisata Ngalor Kalo, dan disertai dengan pemandangan dari Masjid Jabal Nur. Frans Teguh menjelaskan bahwa pengelolaan desa wisata memerlukan kerja sama yang erat antara seluruh pihak di desa. Ia mengajak masyarakat untuk mengadopsi semangat *Sustainable Development Goals* (SDGs) atau tujuan pembangunan berkelanjutan. Dengan harapan, cita-cita untuk menciptakan penggiat yang gigih dan tangguh dalam mengembangkan desa wisata dapat terwujud. Fokus utama adalah pada kesejahteraan masyarakat, perlindungan lingkungan yang berkelanjutan, dan pertumbuhan ekonomi melalui upaya konservasi. Selanjutnya, Frans menekankan pentingnya peningkatan layanan di desa wisata, termasuk penyediaan rumah makan lokal dan homestay yang dikelola oleh penduduk setempat. Unsur budaya yang melekat pada produk dan layanan tersebut harus tetap dipelihara, mengingat bahwa pengembangan desa wisata harus berbasis pada *community-based* atau berbasis masyarakat. Frans juga mendorong Desa Wisata Siru untuk lebih kreatif dalam menawarkan daya tarik yang membedakan dirinya dari desa wisata lainnya. Ia berpendapat bahwa pembangunan desa wisata harus berorientasi kepada masyarakat, dengan mengedepankan kepentingan dan kebutuhan mereka. Pendekatan ini harus berani menampilkan kekhasan, keunikan, dan keaslian yang dapat memberikan pengalaman berbeda bagi setiap pengunjung. Sekretaris Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan Manggarai Barat, Chrispin Mesima, menambahkan harapannya bahwa kegiatan ini akan mendorong Desa Wisata Siru untuk lebih proaktif dalam memanfaatkan potensi lokal serta pengetahuan yang telah diperoleh. Dia menginginkan agar aktifitas di daerah ini, seperti pemanfaatan lahan di belakang masjid yang memiliki pemandangan indah sawah dan sungai dapat ditingkatkan, sehingga daya tarik wisata di desa semakin meningkat. Ketua Pokdarwis Desa Wisata Siru, Syamlan, merasakan manfaat besar dari pelatihan ini. Dia mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai keamanan dan keselamatan di objek wisata. “Kami kini lebih memahami cara menangani kecelakaan atau kejadian tak terduga yang mungkin terjadi di lokasi kami,” ungkapnya. Pelatihan terkait mitigasi risiko yang diterapkan di Desa Wisata Siru dituntun langsung oleh Sahabuddi, Project Officer dari Asia Pacific Alliance for Disaster Management (APAD). Kegiatan tersebut ditutup dengan simulasi cara penanganan ketika terjadi kecelakaan di destinasi wisata, sebagai bentuk praktik langsung dari pengetahuan yang telah didapatkan. ANTARA