**Borneonews - Nanning**, Konsul Jenderal Republik Indonesia untuk Guangzhou, Ben Perkasa Drajat, menyampaikan bahwa sepertiga dari total investasi yang berasal dari Tiongkok ke Indonesia berasal dari provinsi-provinsi di wilayah selatan Tiongkok. Investasi tersebut mencakup berbagai sektor, termasuk teknologi tinggi.
Dalam keterangan yang disampaikannya, Ben Perkasa menyebutkan, "Lebih dari sepertiga investasi asal China di Indonesia berasal dari kawasan ini, khususnya di bidang komunikasi, kesehatan, pertanian, energi baru, dan kendaraan listrik atau *electric vehicle*." Pernyataan tersebut disampaikan di Nanning, Daerah Otonom Guangxi Zhuang, China, pada acara Indonesia-China Investment Forum 2024.
Forum ini diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bekerja sama dengan Konsulat Jenderal RI di Guangzhou dan dihadiri oleh sekitar 100 pengusaha. KJRI Guangzhou memiliki tanggung jawab di empat provinsi di Tiongkok bagian selatan, yakni Guangdong, Fujian, Hainan, dan Guangxi, yang dihuni oleh sekitar 200 juta penduduk atau 13,5 persen dari total populasi China.
Ben juga menyoroti keberhasilan investasi dari kawasan selatan China, seperti SAIC GM Wuling yang berbasis di Guangxi. Perusahaan ini berkontribusi signifikan dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Selain itu, dalam konteks pariwisata, lebih dari 500 ribu wisatawan asal China yang berkunjung ke Indonesia juga berasal dari wilayah selatan negara tersebut. Menurutnya, wilayah tersebut memainkan peran penting sebagai penggerak dalam memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan China.
"Lebih dari 20 persen dari total perdagangan Indonesia dengan China terjadi melalui wilayah selatan. Pada paruh pertama tahun ini, total perdagangan mencapai 22,53 miliar dolar AS atau sekitar Rp340,8 triliun, dengan pertumbuhan sebesar 3,31 persen," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Mardyana Listyowati, menekankan bahwa untuk menjaga tren positif dalam perdagangan, Indonesia perlu memperkuat industri domestiknya. Ini termasuk hilirisasi dan peningkatan daya saing produk-produk yang diorientasikan pada ekspor.
Mardyana menyatakan, "Program hilirisasi industri dan peningkatan daya saing produk tentunya memerlukan dukungan modal yang signifikan. Oleh karena itu, harus ada upaya yang serius agar investasi dapat masuk ke Indonesia dalam jumlah besar."
Ia juga menambahkan bahwa fokus investasi perlu diarahkan pada peningkatan nilai tambah, sesuai dengan peta jalan investasi hilirisasi, yang bertujuan menciptakan industri terintegrasi dengan produk-produk bernilai tambah tinggi.
Dengan adanya investasi yang substansial dan peningkatan ekspor produk dengan nilai tambah, Mardyana optimis bahwa Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia tidak hanya akan bergantung pada konsumsi, baik dari sektor pemerintah maupun swasta, tetapi juga pada investasi dan ekspor yang menghasilkan nilai tambah tinggi.
Melalui forum ini, Mardyana mengundang para pengusaha, investor, dan perwakilan pemerintah Indonesia untuk lebih aktif dalam berkolaborasi, memperkuat hubungan bisnis, dan menjelajahi peluang-peluang baru.
"Manfaatkan sepenuhnya perjanjian perdagangan bebas yang telah disepakati, serta kebijakan pemerintah Indonesia yang memudahkan kegiatan bisnis dan investasi di Indonesia," ungkapnya.
Dalam ranah perdagangan, China tercatat sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Berdasarkan data dari Bea Cukai China, total nilai perdagangan antara China dan Indonesia pada tahun 2023 mencapai 139,41 miliar dolar AS atau setara dengan Rp2,1 kuadriliun. Rincian dari total tersebut meliputi ekspor Indonesia ke China yang mencapai 74,21 miliar dolar AS (Rp 1,1 kuadriliun) dan impor dari China sebesar 65,2 miliar dolar AS (Rp986,4 triliun).
Di kuartal pertama tahun 2024, total nilai perdagangan mencapai 33,57 miliar dolar AS (sekitar Rp507,9 triliun) dengan ekspor Indonesia sebesar 16,94 miliar dolar AS (Rp256,3 triliun) dan impor sebesar 16,61 miliar dolar AS (Rp251,3 triliun).
Sementara itu, investasi China di Indonesia untuk periode 2019 hingga semester I-2024 tercatat mencapai 32,2 miliar dolar AS (Rp487,1 triliun), yang mencakup sekitar 21.022 proyek. Pada tahun 2023, nilai investasi China tercatat sebesar 7,4 miliar dolar AS (Rp 111,96 triliun), menjadikannya sebagai investasi terbesar kedua setelah Singapura yang mencapai 15,4 miliar dolar AS (Rp233 triliun).
Lima sektor utama yang menerima investasi dari China di Indonesia adalah industri pengolahan logam dasar, transportasi, pergudangan, telekomunikasi, kimia dan farmasi, serta kawasan industri, listrik, gas, dan air, serta perumahan dan perkantoran.
Berdasarkan lokasi, investasi terbesar dari China berfokus di Sulawesi Tengah dengan nilai 11,64 miliar dolar AS (Rp176,1 triliun), diikuti oleh Jawa Barat (7,02 miliar dolar AS/Rp106,2 triliun), Maluku Utara (4,98 miliar dolar AS/Rp75,3 triliun), Jakarta (1,6 miliar dolar AS/Rp24,2 triliun), dan Banten (1,27 miliar dolar AS/Rp19,2 triliun).
Salah satu proyek investasi signifikan dari China di Indonesia adalah sektor transportasi, yang terwujud melalui proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang dapat melaju dengan kecepatan hingga 350 km/jam. Proyek ini sebagian besar dibiayai oleh pihak China dengan total investasi mencapai 7,3 miliar dolar AS (sekitar Rp110,44 triliun) dan mulai beroperasi sejak Oktober 2023.
ANTARA
Investasi China di Indonesia, Sektor Utama dan Pertumbuhan Ekonomi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Komentar (0)
Memuat komentar…







