JAKARTA –
**Borneonews - Beijing**, Pemerintah China telah mengeluarkan imbauan kepada warganya yang saat ini berada di Lebanon untuk segera meninggalkan negara tersebut. Permintaan ini disampaikan terkait dengan serangan besar-besaran yang dilakukan oleh Israel di wilayah Lebanon. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers di Beijing mengungkapkan, "Kami meminta semua warga negara kami yang berada di Lebanon untuk mengikuti perkembangan situasi dengan cermat dan secepat mungkin kembali ke China atau meninggalkan Lebanon melalui penerbangan komersial yang tersedia." Sejak hari Senin, 23 September, militer Israel (IDF) telah melancarkan serangan udara ke berbagai lokasi di Lebanon dengan alasan melakukan penyerangan terhadap kelompok Hizbullah. Imbas dari serangan tersebut sangat tragis, dengan korban jiwa mencapai 610 orang dan lebih dari 2.000 orang lainnya mengalami luka-luka, menurut laporan dari otoritas kesehatan Lebanon. Lin Jian menambahkan, "Bagi mereka yang terpaksa harus tetap berada di Lebanon, kami menyarankan untuk tetap waspada. Persiapkan diri Anda untuk kemungkinan situasi darurat, pastikan memiliki cukup perbekalan, dan menghindari perjalanan ke daerah yang berisiko tinggi, terutama di bagian selatan Lebanon." Kementerian Luar Negeri China, dalam langkah tanggap darurat, telah mengaktifkan Pusat Bantuan dan Perlindungan Konsuler, serta Kedutaan Besar China di Lebanon. Mereka sedang menyusun rencana yang sesuai dan mengeluarkan beberapa peringatan mengenai keamanan kepada warganya. Lin Jian juga menekankan, "Kami sekali lagi mengingatkan warga China agar menunda perjalanan ke Lebanon dalam waktu dekat." Jika ada warga negara China yang menghadapi keadaan darurat di Lebanon, mereka disarankan untuk segera menghubungi Kedutaan Besar China untuk mendapatkan bantuan. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk mendukung warga China yang memerlukan evakuasi atau bantuan lainnya," tambah Lin Jian. Ketegangan antara Israel dan Lebanon semakin meningkat sejak Israel melakukan serangan mematikan ke Palestina setelah insiden yang terjadi pada 7 Oktober 2023. Bentrokan ini meluas hingga ke garis perbatasan antara Israel dan Lebanon, termasuk di area yang dikenal sebagai Blue Line, yaitu garis demarkasi yang memisahkan kedua negara. Selama konflik ini, Hizbullah dan Israel telah terlibat dalam baku tembak yang saling menyerang, khususnya setelah Israel meluncurkan serangan intensif terhadap Jalur Gaza. Serangan tersebut telah mengakibatkan lebih dari 41.500 orang, sebagian besar merupakan wanita dan anak-anak, kehilangan nyawa, setelah serangan lintas batas yang dilakukan oleh kelompok Hamas pada 7 Oktober 2023. Komunitas internasional telah mengingatkan potensi bahayanya jika serangan terhadap Lebanon terus berlanjut, karena hal ini dapat meningkatkan ketegangan dan memperluas konflik di wilayah tersebut. ANTARA