PONTIANAK –
**Borneonews - Pontianak**, Pj Gubernur Kalimantan Barat, Harisson, memberikan apresiasi tinggi kepada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tingkat provinsi serta TPID di kabupaten dan kota yang berhasil menjaga inflasi di Kalimantan Barat tetap dalam kendali. Pada bulan Agustus 2024, tingkat inflasi di Kalimantan Barat tercatat sebesar 1,47 persen, mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang berada pada 1,58 persen. Kinerja ini masih berada dalam batas sasaran inflasi nasional yang ditetapkan di angka 2,5±1 persen. Hal ini disampaikan oleh Harisson dalam acara pembukaan kegiatan *Capacity Building* yang membahas strategi pengendalian inflasi daerah untuk semester kedua tahun 2024, bertempat di Aula Keriang Bandong, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalbar. Dalam kesempatan tersebut, Harisson juga merujuk pada kunjungan Presiden Joko Widodo ke Pasar Mawar di Pontianak, yang menunjukkan harga bawang terpantau cukup terjangkau. Ini mencerminkan bahwa langkah yang diambil oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam mengendalikan harga telah membuahkan hasil yang positif. “Fakta bahwa harga bawang di wilayah Kalbar hampir setara dengan harga di Jawa adalah indikator keberhasilan kita dalam menjaga stabilitas harga,” jelas Harisson. Ia menegaskan bahwa penting untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan penerapan strategi 4K yang telah menjadi fondasi pengendalian inflasi di Kalimantan Barat. Strategi ini meliputi Keterjangkauan harga, Ketersediaan bahan pokok, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif antar-stakeholder. Lebih lanjut, Pj Gubernur juga memaparkan data yang diperoleh dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Provinsi Kalbar mengenai deflasi yang terjadi pada Agustus 2024, yang tercatat sebesar 0,25 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini jauh di atas rata-rata deflasi bulan Agustus dalam tiga tahun terakhir yang hanya mencapai 0,10 persen. Deflasi ini dipicu oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, serta tembakau, termasuk di dalamnya harga daging ayam ras, bawang merah, tomat, sawi hijau, dan udang basah. Selain itu, terdapat juga penurunan tarif angkutan udara yang turut berkontribusi pada deflasi. Meskipun demikian, inflasi di sektor penyediaan makanan dan minuman, seperti air kemasan dan kopi bubuk, masih tinggi akibat tingginya aktivitas masyarakat di warung kopi. Harisson berharap bahwa melalui kegiatan *Capacity Building* ini, para pemangku kebijakan akan mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait penyebab inflasi di masing-masing daerah, sehingga langkah penanganan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat sasaran. "Kegiatan ini sangat penting guna mengidentifikasi faktor penyebab inflasi di setiap daerah, sehingga kita dapat mengatasinya dengan lebih efektif," tuturnya. ANTARA