JAKARTA –
**Borneonews - Hamilton, Kanada**, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, baru-baru ini menyerukan kepada semua pemimpin negara di dunia untuk memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap Badan PBB bagi Pengungsi Palestina (UNRWA). UNRWA memainkan peran penting bagi hampir 6 juta pengungsi dan penyedia layanan dasar yang sangat dibutuhkan. Pernyataan Guterres disampaikan dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi yang diadakan oleh Yordania dan Swedia untuk mendukung UNRWA, di tengah pelaksanaan Sidang Umum PBB di New York. Dalam kesempatan tersebut, dia menggambarkan kondisi yang terjadi di Jalur Gaza sebagai situasi yang "tidak terbayangkan." Guterres mengungkapkan keprihatinannya, menyatakan, "Kami telah gagal dalam memberikan bantuan kepada warga Gaza. Mereka terperosok dalam situasi yang semakin memburuk dari hari ke hari." Dia juga menegaskan bahwa UNRWA tidak memiliki pilihan lain dan mengajak semua negara anggota PBB untuk "bekerja di semua lini demi meningkatkan dukungan bagi misi penting badan ini." Meskipun dia menyatakan bahwa UNRWA "bukanlah solusi jangka panjang yang berkelanjutan bagi nasib pengungsi Palestina," Guterres terus mendesak perlunya gencatan senjata kemanusiaan di Gaza, pembebasan sandera, serta pencarian solusi politik dua negara antara Palestina dan Israel, dengan Yerusalem sebagai ibu kota kedua negara tersebut. "Namun, sampai saat itu tiba, UNRWA masih sangat diperlukan," ujarnya, mengajak negara-negara untuk memberikan "dukungan penuh." Lebih lanjut, Guterres mencatat bahwa dua juta warga Palestina terkonsentrasi di area kecil, hidup dalam lingkungan yang dikelilingi oleh "danau limbah, tumpukan sampah, dan gunung puing-puing," serta memperingatkan bahwa "satu-satunya kepastian adalah bahwa hari esok akan lebih buruk." Dia juga menegaskan, "Jika ada harapan dalam situasi yang menyedihkan ini, itu adalah UNRWA." Badan ini menghadapi berbagai tantangan baik dari segi operasional maupun politik. Guterres mencatat dengan jelas bahwa "sejumlah 222 rekan UNRWA telah kehilangan nyawa, banyak di antaranya bersama keluarganya, saat bertugas," menjadikannya sebagai "jumlah korban tewas tertinggi dalam sejarah PBB." Di samping itu, dia menyoroti adanya "kampanye militer" dari Israel yang berusaha mendiskreditkan upaya penyelamatan jiwa yang dilakukan oleh UNRWA. Dia juga menggarisbawahi keputusan Knesset, parlemen Israel, yang mengklasifikasikan UNRWA sebagai organisasi teroris. "Meski berada di tengah krisis seperti ini, UNRWA tetap bertahan," tegasnya. Guterres menambahkan bahwa ia memiliki "keyakinan penuh terhadap komitmen UNRWA dalam menjunjung prinsip-prinsip kemanusiaan, termasuk netralitas, ketidakberpihakan, dan kemanusiaan." Dia juga mencatat bahwa negara-negara anggota PBB menunjukkan kepercayaan yang sama terhadap badan ini. "Hampir semua donor telah mencabut penangguhan pendanaan mereka," ungkapnya. "Ini menunjukkan adanya konsensus bahwa peran UNRWA di Tepi Barat dan wilayah lainnya sangat krusial." ANTARA