JAKARTA –
**Borneonews - New York**, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, melakukan pertemuan dengan Muhammad Yunus, yang merupakan penasihat utama dan pemimpin pemerintahan sementara Bangladesh, pada hari Kamis, 26 September, di sela-sela sesi Sidang Umum PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Pertemuan ini berlangsung di New York, dan menjadi sebuah kesempatan bagi Blinken untuk menegaskan komitmen AS terhadap situasi politik dan ekonomi yang dihadapi oleh Bangladesh. Dalam pertemuan tersebut, Blinken memberikan penekanan pada pentingnya dukungan AS terhadap pemerintahan transisi di Bangladesh. Dia menyampaikan bahwa negara tersebut harus berfokus pada upaya stabilisasi ekonomi. Selain itu, Blinken juga menggarisbawahi perlunya reformasi yang dapat menarik investasi langsung asing ke Bangladesh, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Departemen Luar Negeri, Matthew Miller. Miller menambahkan, Blinken juga menyampaikan dukungannya untuk pelaksanaan pemilihan yang bebas dan adil, yang diharapkan dapat membuka jalan bagi terciptanya masa depan yang lebih inklusif, demokratis, serta adil bagi seluruh warga negara Bangladesh. Poin penting lain yang dibahas dalam pertemuan ini adalah perlunya penguatan institusi yang ada di Bangladesh agar mampu memerangi korupsi secara efektif. Jawaban terhadap tantangan ini diharapkan dapat dilakukan dengan menjunjung tinggi kebebasan media serta melindungi hak asasi manusia di negara tersebut. Bangladesh dalam beberapa waktu terakhir mengalami ketegangan politik yang mengarah pada pemberontakan besar-besaran yang dipimpin oleh kelompok mahasiswa pada bulan Juli dan Agustus. Ketegangan ini berujung pada mengakhiri 15 tahun kekuasaan Perdana Menteri Sheikh Hasina. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, mantan Perdana Menteri Hasina meninggalkan negara tersebut pada 5 Agustus, menyusul gelombang demonstrasi besar di ibu kota, Dhaka, serta di lingkungan sekitar kediamannya. Sebagai sosok yang memiliki reputasi internasional dan satu-satunya penerima Nobel dari Bangladesh, Muhammad Yunus kini memimpin pemerintahan transisi setelah kepergian Hasina. Diharapkan, pemerintahan di bawah kepemimpinannya dapat membawa perubahan positif bagi bangsa Bangladesh di tengah tantangan yang ada. ANTARA