**Borneonews - Kairo**, Mesir mengungkapkan dukungan penuh terhadap berbagai inisiatif yang bertujuan untuk mencapai de-eskalasi di kawasan. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kunci untuk mewujudkan perdamaian terletak pada penghentian agresi Israel yang terus berlangsung di Jalur Gaza.
Dukungan ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Mesir setelah adanya deklarasi bersama dari Amerika Serikat, negara-negara Barat, serta beberapa negara Arab, dengan pengecualian Mesir, yang menyuarakan dukungan untuk gencatan senjata sementara selama 21 hari di sepanjang perbatasan Israel-Lebanon.
Lebih lanjut, Mesir mengingatkan bahwa tindakan dan pelanggaran yang dilakukan oleh Israel dapat mendorong situasi di Timur Tengah menuju kekacauan dan konfrontasi yang tidak terkontrol, yang akan sangat merugikan penduduk di kawasan tersebut. Hal ini dikemukakan setelah terjadinya eskalasi serangan Israel di Lebanon, termasuk di Beirut, serta serangan yang dilancarkan Tel Aviv terhadap Gaza.
Kementerian Luar Negeri Mesir menegaskan komitmennya untuk bekerja sama dengan mitra-mitra regional dan internasional dalam usaha untuk meredam konflik yang semakin meningkat. Mereka juga mendesak agar segera dilakukan gencatan senjata yang menyeluruh dan permanen, baik di Gaza maupun Lebanon.
Lebih lanjut, kemendikbud juga menekankan bahwa meredakan ketegangan sangat terkait dengan penghentian agresi brutal Israel di Gaza dan pelaksanaan resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB yang relevan dan disepakati.
Informasi terbaru yang dilaporkan oleh situs web *Axios* yang berbasis di Amerika Serikat menunjukkan bahwa pejabat dari pemerintahan Joe Biden bersama pejabat Israel dan dua sumber lain, sedang merancang *inisiatif diplomatik baru* untuk menghentikan pertempuran di Lebanon, sekaligus melanjutkan pembicaraan mengenai gencatan senjata di Gaza.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, saat berbicara di Dewan Keamanan PBB, mengungkapkan bahwa Prancis bersama dengan AS tengah menyusun rencana untuk gencatan senjata sementara antara Israel dan Lebanon. Rencana tersebut bertujuan untuk membuka jalan bagi negosiasi yang lebih konstruktif, dan informasi terbaru terkait rencana ini diharapkan bisa segera diumumkan.
Sejak awal Senin, 23 September, Israel telah melancarkan serangan ke Lebanon yang mengakibatkan setidaknya 677 orang tewas dan lebih dari 2.500 orang lainnya mengalami luka-luka, sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan setempat.
Konflik yang terjadi antara kelompok perlawanan Lebanon, Hizbullah, dan Israel semakin memanas sejak terjadinya serangan Israel terhadap Gaza, yang telah merenggut lebih dari 41.500 korban jiwa, sebagian besar terdiri dari perempuan dan anak-anak. Hal ini menyusul serangan lintas batas yang diluncurkan oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada 7 Oktober.
Keberadaan kekhawatiran di masyarakat internasional mengenai dampak luas dari serangan terhadap Lebanon menjadi sinyal bahwa konflik di Gaza dapat meluas menjadi masalah regional yang lebih serius.
ANTARA
Mesir Dukung Gencatan Senjata untuk Perdamaian di Gaza dan Lebanon
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
SKK Migas Umumkan Pengurangan Ekspor Gas ke Singapura
Hangtuah Kalahkan Satya Wacana 62-58 di IBL All Indonesian
Tim Boccia Indonesia Bertekad Jaga Performa hingga Paralimpiade
Bupati Kotim Prihatin Kebun Warga Terbakar dan Terancam Kehilangan Penghasilan
Kim Jong-un Kunjungi China Jelang Peringatan Perang Korea
Pemkab Kobar Dorong Untama Jadi PTN dan Buka Fakultas Kedokteran
Komentar (0)
Memuat komentar…






