**Borneonews - Magelang**, Grup musik "Kiai Kanjeng" yang berbasis di Yogyakarta telah berhasil menggelar pertunjukan dengan judul "Komposisi Jalan Sunyi" dalam rangkaian puncak Festival Lima Gunung XXIII/2024. Acara tersebut berlangsung di Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada malam hari tanggal 26 September hingga dini hari 27 September.
Dalam pertunjukan ini, beraneka ragam lagu religi, pembacaan puisi, dan refleksi mengenai isu-isu sosial, budaya, kemanusiaan, demokrasi, serta religiusitas disajikan melalui perpaduan musik kontemporer dan Islami. Grup ini didirikan oleh budayawan terkenal Yogyakarta, Emha Aiun Nadjib, yang akrab disapa Cak Nun. Cak Nun juga merupakan sahabat dekat Sutanto Mendut, pendiri Komunitas Lima Gunung yang menyelenggarakan festival ini.
Yoyok Prasetyo, salah satu anggota "Kiai Kanjeng", mengungkapkan bahwa kehadiran mereka di Festival Lima Gunung merupakan bentuk dukungan terhadap Cak Nun, yang saat ini sedang sakit. Ia menjelaskan bahwa persahabatan Cak Nun dengan Tanto atau Sutanto Mendut telah terjalin lama dan tulus.
Tampak di lokasi acara, Tanto Mendut menyaksikan pementasan dengan duduk bersila di antara para penonton yang juga berasal dari masyarakat setempat. Meskipun gerimis sempat mengguyur, hal tersebut tak menghalangi ketiga grup musik untuk memulai pertunjukan dengan mengawali kegiatan dengan doa secara Islami, bersama-sama dengan penonton. Pementasan dimulai pada Kamis malam sekitar pukul 23.00 WIB dan berakhir menjelang pagi, sekitar pukul 01.00 WIB.
Dalam pementasan yang berlangsung di Panggung "Semut Ireng", artis "Kiai Kanjeng" mempersembahkan sejumlah repertoar termasuk lagu-lagu seperti "Bang-Bang Wetan", "Rampak Terbang", "Rampak Osing", "Manungso", dan "Ya Thoybah". Selain itu, puisi-puisi yang dibacakan, seperti "Jalan Sunyi", "Puisi Hijrah", "Pacul Segoro", dan "Manungso", turut meramaikan acara tersebut. Di akhir sesi, penonton diajak untuk bersama-sama melakukan "Mahalul Qiyam" sebagai bentuk pengucapan doa dan sholawat.
Pada hari kedua Festival Lima Gunung, yang terus berlangsung dari siang hari hingga dini hari, berbagai pertunjukan seni disuguhkan. Tarian, musikalisasi puisi, pantomim, dan repertoar seni dihadirkan oleh sejumlah kelompok kesenian, baik dari daerah sekitar maupun luar Magelang.
Festival Lima Gunung XXIII mengusung tema "Wolak-Waliking Jaman Kelakone". Masyarakat yang berdomisili di kawasan Gunung Merapi dan Merbabu, Kabupaten Magelang, bekerja sama untuk mendirikan panggung besar dengan berbagai instalasi seni yang memanfaatkan bahan-bahan alami, salah satunya adalah pemasangan 25 semut ireng dalam ukuran besar di puncak panggung.
Sebanyak 120 grup kesenian dari Komunitas Lima Gunung, beberapa daerah lainnya, serta perwakilan dari luar negeri turut berpartisipasi dalam Festival Lima Gunung XXIII/2024 dengan menampilkan beragam seni pertunjukan.
Yoyok menambahkan bahwa "Komposisi Jalan Sunyi" merupakan respons dari "Kiai Kanjeng" terhadap tema Festival Lima Gunung tahun ini. Tema tersebut diartikan sebagai refleksi dan harapan Komunitas Lima Gunung terkait dinamika perubahan zaman, kehidupan manusia, serta lingkungan.
Dia juga menjelaskan bahwa perubahan adalah sebuah kepastian. Oleh karena itu, jalan sunyi yang dimaksud bukan berarti bersikap diam, melainkan berupaya mandiri, sebagaimana Festival Lima Gunung yang telah diselenggarakan dengan semangat mandiri tanpa bergantung pada sponsor atau donatur. Termasuk juga para seniman yang terlibat dalam pertunjukan.
Sujono, selaku Ketua Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, menambahkan bahwa para seniman petani dari komunitas tersebut sering kali mendapat kepercayaan untuk menggelar pertunjukan seni dalam agenda rutin yang dikenal dengan sebutan "Maiyah", diselenggarakan "Kiai Kanjeng" setiap bulan di markas mereka yang terletak di Bantul, Yogyakarta.
ANTARA
Kiai Kanjeng sajikan Komposisi Jalan Sunyi di Festival Lima Gunung 2024
Bagikan:

SEMARANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Adam Alis Cetak Gol Penentu Kemenangan Persib atas Garudayaksa 2-1
Hujan Perdana Banjarbaru Diwarnai Pohon Tumbang Akibat Angin Kencang
Kebakaran Hebat Hanguskan 4 Rumah dan 1 Masjid di Kotim
Saingi China, Pabrik Mobil Jepang Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
PDIP Dukung Revisi UU Peradilan Militer Pascaputusan MK
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
Komentar (0)
Memuat komentar…







