BOGOR –
**Borneonews - Kebumen**, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong peningkatan kapasitas para relawan yang merupakan penyandang disabilitas. Upaya ini dilakukan dengan menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) untuk berkolaborasi dalam program pelatihan. Pentingnya peran penyandang disabilitas dalam penanggulangan bencana tidak dapat diabaikan. Salah satunya adalah Bambang Iman, seorang relawan asal Kota Sukabumi yang memiliki keterbatasan netra. Saat menghadiri Latihan Gabungan dan Bhakti Sibat PMI Tingkat Nasional III di Kebumen, Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Pangarso Suryotomo, memberikan penghargaan atas keterlibatan Bambang dalam merespons bencana yang terjadi. Bambang aktif terlibat dalam *Tanggap Darurat Bencana* (TDB) selama tiga bulan pasca-gempa bumi, berkontribusi dengan memberikan layanan pijat gratis kepada relawan dan penyintas. Akan tetapi, keberadaan Bambang tidak hanya sebatas itu; ia memberikan dampak positif bagi mereka yang membutuhkan, terutama bagi relawan yang merasa kelelahan akibat tugas berat di lapangan. Saat menjalankan tugas TDB, tidak hanya penyintas yang menghadapi keletihan, tetapi juga petugas yang bekerja di lokasi bencana. Oleh karena itu, kehadiran relawan seperti Bambang sangat membantu untuk menyegarkan kembali fisik dan semangat mereka. Melihat keberhasilan ini, BNPB berencana untuk membentuk unit layanan khusus penanggulangan bencana yang akan diisi oleh penyandang disabilitas. Langkah ini diharapkan bisa memberikan kontribusi nyata dalam berbagai situasi bencana. Selain itu, BNPB akan melakukan pelatihan secara rutin kepada para relawan penyandang disabilitas untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam menangani bencana. Salah satu kegiatan yang direncanakan adalah jambore relawan disabilitas tingkat nasional di Jawa Tengah yang akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. Lokasi pasti untuk acara ini masih dibahas, dengan pilihan kemungkinan di Semarang atau Solo. Dalam kesempatan tersebut, BNPB juga berencana mengundang Bambang Iman sebagai narasumber untuk berbagi pengalamannya. Vijay Umar Kumidi, Program Coordinator dari International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC), menyampaikan kekagumannya saat mengetahui adanya penyandang disabilitas yang terlibat dalam TDB di Cianjur. Hal ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kapasitas para relawan dengan kebutuhan khusus. IFRC berencana untuk menciptakan program khusus bagi relawan penyandang disabilitas di masa mendatang. Sejalan dengan itu, IFRC memberikan dorongan kepada PMI agar lebih rutin menyelenggarakan pelatihan khusus untuk penyandang disabilitas, mengingat mereka memiliki kemampuan unik yang bisa berkontribusi positif dalam situasi darurat. Di sisi lain, Bambang Iman sebagai relawan Sibat PMI Kota Sukabumi menegaskan pentingnya pelatihan bagi relawan penyandang disabilitas, terutama mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan. Ia berharap, lebih dari sekadar pelatihan, perhatian khusus juga diberikan kepada mereka yang berada di lapangan. Bambang juga berbagi pengalamannya saat bertugas di Cianjur, di mana puluhan gempa susulan menambah tantangan bagi para relawan dan penyintas. Dalam situasi darurat, kepanikan sering melanda, dan dalam satu kesempatan ia mengalami kebingungan ketika relawan lainnya berlari keluar, sedangkan dirinya justru kembali ke dalam ruangan. Keterbatasan panca indera menjadikannya menghadapi tantangan tersendiri dalam memberikan bantuan. ANTARA