BORNEONEWS, Kotim - Kebakaran lahan seluas empat hektare, di Desa Ekabahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kotawaringin Timur (Kotim), diduga disengaja. Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) mulai melanda Kotim. Parahnya, kebakaran lahan di Desa Ekabahurui tersebut, diduga karena ulah manusia atau ada unsur kesengajaan.

“Kalau dilihat sih memang ada yang sengaja membakar,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Sutoyo, yang dikonfirmasi via telepon selularnya, Kamis (11/8/2016).

Kebakaran lahan di Desa Ekabahurui terjadi sejak Rabu (10/8). Hari itu petugas gabungan BPBD Kotim, Damkar, TNI/Polri yang dibantu masyarakat tidak memampu memadamkan api. Api baru bisa dipadamkan Kamis (11/8/2016), setelah pasukan Pemadam kebakaran mengerahkan lima unit mobil pemadam.

Sutoyo sangat menyesalkan jika masih ada warga yang nekat membersihkan lahan dengan cara membakar. Padahal pemerintah pusat hingga daerah hampir setiap hari menghimbau semua pihak terutama para petani dan perusahaan perkebunan agar tidak membakar lahan.

Bukan sekedar himbauan di media massa dan spanduk-spanduk. Pihaknya mendatangi setiap desa untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk tidak membersihkan lahan dengan cara membakar.

Namun diakuinya, himbauan itu tidak dihiraukan sebagaian warga. Sehingga masih banyak ditemukan lahan yang terbakar, diduga kebakaran itu disengaja.

Terkait kebakaran lahan yang terjadi selama Sembilan kali di wilayah Kota Sampit sejak 12 Juli lalu ini. Sutoyo mengaku proses selanjutnya diserahkan kepada aparat penegak hukum untuk memprosesnya. Pihaknyahanya berkewajiban untuk melakukan pencegahan dan pemadaman ketika ada bencana kebakaran hutan maupun lahan yang terjadi bersama tim Karhutla.

“Proses penyelidikan apakah itu memang senagaja dibakar atau tidak itu ranahnya kepolisian. Ranah kami ya memadamkan api, memberikan penyadaran kepada masyarakat agar tidak membakar lahan,” kata Sutoyo. (RAFIUDIN/N).