PADANG –
**Borneonews - Kabupaten Solok**, Tim gabungan yang meliputi Basarnas, masyarakat setempat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta relawan, telah menerapkan metode estafet dalam upaya evakuasi korban yang terjebak akibat longsor di area tambang emas di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Kepala Seksi Operasi dan Siaga (Kasi Ops) dari Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Padang, Hendri, mengungkapkan bahwa sistem estafet ini digunakan untuk mempercepat proses pemindahan korban yang masih terperangkap dalam tanah longsor. Metode ini dirasa sangat penting untuk menjamin keselamatan dan kecepatan evakuasi. Hendri menjelaskan bahwa penggunaan cara estafet dalam evakuasi korban memberikan efisiensi dan efektivitas yang signifikan, mengingat medan yang harus dilalui tim gabungan termasuk dalam kategori sulit dan jauh. Di lokasi longsor, tim harus menempuh perjalanan kaki antara empat hingga tujuh jam untuk sampai ke titik yang terisolasi. Proses evakuasi dilakukan menggunakan alat yang cukup sederhana, seperti tandu kayu yang dilapisi sarung, untuk mengangkut para korban dari lokasi yang tertutup hutan. Setiap individu yang berhasil dievakuasi kemudian segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan. "Mudahan-mudahan dengan penerapan metode estafet ini, korban dapat segera sampai di titik aman," ungkap Hendri. Namun, tidak hanya medan yang sulit yang menjadi kendala. Cuaca yang kurang mendukung juga memberi tantangan tersendiri bagi tim gabungan dalam melaksanakan evakuasi korban. Dalam pelaksanaan proses pencarian ini, Basarnas Padang mengerahkan puluhan personel yang bekerja sama dengan TNI/Polri, anggota BPBD Kabupaten Solok, serta masyarakat setempat dan relawan dari berbagai lembaga. Hendri menambahkan bahwa untuk mempercepat pencarian terhadap korban yang mungkin masih tertimbun oleh tanah longsor, tim juga memanfaatkan teknologi modern seperti *drone* bermodel termal yang diterjunkan di area sekitar tambang emas. ANTARA