JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Relawan Pengusaha Muda Nasional (Repnas) baru-baru ini meluncurkan inisiatif bernama *Gerakan Tumbuh Bersama 8%* yang bertujuan untuk mendukung upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Peluncuran gerakan ini menunjukkan komitmen Repnas dalam membantu pemerintahan baru mencapai target pertumbuhan yang ambisius. Menurut Ketua Umum Repnas, Anggawira, gerakan ini merupakan langkah signifikan untuk memperkuat ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa inisiatif ini berfokus pada pengembangan wirausahawan baru, penyederhanaan regulasi, dan peningkatan kepastian hukum di Indonesia. Kehadiran wirausahawan muda sebagai pendorong perubahan dianggap sangat penting dalam mencapai target pertumbuhan yang diinginkan. Anggawira menekankan bahwa untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045, pertumbuhan ekonomi perlu melampaui angka 5-6 persen. Ia berpendapat bahwa hanya dengan mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi, kolaborasi yang kuat, dan inovasi di berbagai sektor, tujuan ini dapat tercapai. Dalam diskusinya, ia juga menyoroti pentingnya stabilitas politik dan kepastian hukum sebagai faktor kunci untuk menarik lebih banyak investasi. Tanpa adanya kepastian hukum yang kokoh, proses menarik investor akan menghadapi berbagai tantangan. Anggawira percaya bahwa gerakan ini menjadi langkah awal bagi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk membawa Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi global di masa depan. Lebih jauh, ia berharap bahwa kolaborasi lintas sektor, penyederhanaan regulasi, dan perbaikan dalam kepastian hukum akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lebih banyak peluang bagi pengusaha muda di tanah air. Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal di Kementerian Investasi/Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), Edy Junaedi, menekankan urgensi untuk memperluas ekspansi ekonomi ke pasar global. Menurutnya, Indonesia harus bersaing dengan negara-negara lain seperti Vietnam, yang telah berhasil mengurangi hambatan birokrasi untuk menarik investasi asing. Edy memperingatkan bahwa jika Indonesia tidak segera melakukan perbaikan pada sistem yang ada, Indonesia akan semakin tertinggal. Edy menambahkan bahwa untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen, fokus utama harus ditujukan pada penyederhanaan regulasi. Hal ini juga diperlukan agar proses bisnis menjadi lebih mudah, khususnya dalam menarik investasi asing langsung. Selain itu, Direktur Utama Manajemen Risiko PLN, Suroso, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi memerlukan infrastruktur yang handal, terutama di sektor energi. Ia menjelaskan, meskipun rasio spesifik kelistrikan Indonesia sudah berada pada angka 95 hingga 98 persen, PLN perlu meningkatkan pertumbuhan infrastruktur kelistrikan minimal sebesar 7,9 persen per tahun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat. Suroso menegaskan pentingnya memastikan bahwa sektor energi siap memenuhi kebutuhan industri, dengan memperhatikan distribusi energi yang merata di seluruh wilayah Indonesia. CEO Bhumi Varta Technology, Martyn Terpilowsky, juga mencatat bahwa kemudahan dalam berbisnis serta pengurangan birokrasi merupakan faktor krusial untuk meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia. Ia berpendapat bahwa seharusnya Indonesia tidak kalah bersaing dengan negara-negara yang memiliki populasi lebih kecil, seperti Vietnam, mencatat bahwa negara tersebut berhasil menarik banyak investasi berkat penyederhanaan proses perizinan. Inisiator Gerakan Tumbuh Bersama 8 persen, Erwin Suryadi, menekankan pentingnya kolaborasi yang sinergis antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Erwin mengungkapkan keyakinannya bahwa pencapaian target pertumbuhan tidak dapat dilakukan secara terpisah. Ia mengajak semua pihak untuk berkolaborasi dan memastikan kebijakan yang dibuat dapat mendukung inovasi, pengembangan teknologi, dan memberikan ruang bagi para pengusaha muda untuk berkembang. ANTARA