BORNEONEWS, Sampit - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mulai mendeteksi kemunculan titik panas atau hotspot di tiga kabupaten di Kalimantan Tengah, pada Kamis (11/8/2016).
Dari pantauan satelit Terra dan Aqua sesuai rilis BMKG, delapan titik panas tersebut terdeteksi di Kabupaten Kotawaringin Timur terdapat dua titik yakni di Kecamatan Parenggean dan Teluk Sampit. Kabupaten Katingan terdapat empat titik yakni dua titik di wilayah Pulau Malan dan dua titik di Tewang Sangalang Gar. Sedangkan di Kabupaten Katingan terdeteksi di Seruyan Hilir.
Data BMKG, cuaca di Sampit dan sekitarnya selama dua hari yakni pada 12-13 Agustus pukul 07.00 WIB berawan. Suhu antara 23 sampai 34 derajat celsius dan kelembaban udara 50% sampai 94%.
Dengan kemunculan delapan titik api di tiga daerah itu, khususnya dua titik hotspot di wilayah Kotim, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Sutoyo meminta warga tetap waspada dan tidak melakukan pembakaran lahan karena dikhawatirkan akan menjalar ke lahan lain sehingga menimbulkan kebakaran hebat.
“Meski jumlahnya hanya satu, namun ini menjadi peringatan dini bagi kita untuk waspada kebakaran hutan dan lahan. Pencegahan dini harus dilakukan agar kebakaran lahan dan kabut asap tidak sampai terjadi lagi di daerah ini,” kata Sutoyo, Kamis (11/8/2016).
Beberapa pekan terakhir intensitas hujan di Kotawaringin Timur menurun. Imbasnya, kebakaran kembali terjadi sehingga membuat petugas pemadam kebakaran bekerja keras memadamkan api di lahan warga yang ada di wilayah perkotaan.
Data BPBD Kotim, menyebutkan daru Juli hingga Agustus 2016 kebakaran lahan di daerah itu terjadi du dua kecamatan di wilayah perkotaan yakni Kecamatan baamang dan Mentawa Baru Ketapang. Tercatat sudah Sembilan kali kebakaran lahan.
Kotawaringin Timur yang terdiri 17 kecamatan sangat rawan kebakaran lahan karena sebagian wilayahnya merupakan gambut tebal. Saat kemarau, gambut akan sangat kering sehingga mudah terbakar dan sulit dipadamkan karena api terus membakar hingga beberapa meter ke dalam tanah.
Sedangkan saat musim hujan, gambut yang fungsinya sudah rusak, tidak mampu lagi menyerap dan menyimpan air sehingga banjir makin sering terjadi.
“Walaupun masih sering hujan, kami tetap siaga karena sejak tanggal 11 Juli lalu, sudah siaga darurat bencana asap,” kata Sutoyo. (RAFIUDIN/m)








