BORNEONEWS, Palangka Raya - Ratusan orang secara bergantian terlihat sibuk memadamkan kebakaran lahan di kawasan Kalampangan samping kantor Polsek Sebangau, Palangka Raya, Kamis (11/8/2016). Pemadaman itu tak serta merta langsung ke titik api melainkan dengan langkah strategi.
Mulai dari memadamkan percikan api sambil mengorek-ngorek lahan gambut di pinggiran, lalu disusul menggunakan air secara menyeluruh. Setelah dipastikan basah, barulah petugas menyemprotkan air ke titik lahan yang terbakar.
Inilah simulasi dari pendidikan dan pelatihan (diklat) kebakaran hutan dan lahan gambut di Kalimantan Tengah, yang diikuti 120 orang peserta.
Diklat ini terselenggara atas dukungan program REDD+partnership yang merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dan pemerintah Norwegia yang difasilitasi UNDP. Secara operasional, kegiatan yang dilaksanakan selama enam hari berakhir Sabtu (13/8/2016) itu dilaksanakan di bawah koordinasi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Lingkungan Hidup, dan Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan pemerintah Kalteng.
Mereka yang menjadi peserta tergabung dari 12 kelurahan/desa. Yakni Desa Lahei Mangkutup, Desa Kalumpang, Kelurahan Tangkiling, Desa Sei Ahas, Desa Talekung Punei, Kelurahan Kereng Bangkirai, Desa Tumbang Muroi, Desa Muroi Raya, Kelurahan Bereng Bengkel, Desa Danau Rawah, Desa Tanjung Kalanis dan Kelurahan Danau Tundai.
Kemudian peserta terbagi dalam empat angkatan terdiri dari aparatur kecamatan, aparatur desa, anggota tim serbu api kelurahan/MPA, ketua pramuka, karang taruna dan anggota Manggala Agni. Untuk anggota Manggala Aqni sendiri berasa dari Manggala Aqni Kapuas dan Palangka Raya.
Ketua Panitia Pelaksana Diklat Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan Rita Widaningsih mengatakan, diklat tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang memadai untuk melakukan upaya-upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan gambut.
Praktik lapangan ini akan dilaksanakan di KHDTK Tumbang Nusa, Jumpun Pambelom dan kawasan agro foresty di Kelurahan Kalampangan, Palangka Raya.
"Peserta dibekali materi diklat berupa teori mulai dari peringatan dan deteksi dini, dasar-dasar kebakaran hutan dan lahan, teknik pencegahan, tekhnik pemadaman, navigasi darat, patroli dan laporan kejadian. Sedangkan materi praktik terdiri dari penanggulangan kebakatan hutan dan lahan dan tekhnik pencegahan serta rencana aksi," katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng Brigong Tom Moenandaz mengatakan, Kalteng adalah salah satu dari lima provinsi yang rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Empat provinsi sisanya yakni Sumatera Selatan, Riau, Jambi dan Kalimantan Barat.
Dia menambahkan, penyelenggaraan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah, tapi juga menjadi tanggung jawab semua pihak. (BUDI YULIANTO/m)








