PALU –
**Borneonews - Palu**, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Palu, Sulawesi Tengah, tengah menjalankan inisiatif guna meningkatkan kualitas distribusi dan pengawasan terhadap obat-obatan di wilayah tersebut melalui program Megalit *CBOP IFP*. Kepala BPOM Palu, Mardianto, menegaskan bahwa program ini mencerminkan komitmen serius mereka dalam mendorong perbaikan kualitas distribusi obat di seluruh area yang berada di bawah pengawasan Balai POM Palu. "Inisiatif Program Megalit *CDOB IFP* merupakan langkah nyata dalam upaya tersebut," ungkapnya. Program ini merupakan singkatan dari kerja sama yang melibatkan pendampingan serta kolaborasi antara sektor bisnis dan pemerintah dalam memastikan pemenuhan standar *Cara Distribusi Obat yang Baik* (CDOB) pada Instalasi Farmasi Pemerintah. Mardianto menambahkan bahwa program ini merupakan inovasi penting, di mana pihak Balai POM memberikan pendampingan secara intensif kepada instalasi farmasi. Salah satu contohnya adalah Instalisasi Farmasi Parigi Moutong yang secara aktif terlibat dalam penyusunan dan penyelesaian dokumen yang diperlukan. Instalasi Farmasi Parigi Moutong baru-baru ini menerima Surat Keterangan Pemenuhan CDOB dari BPOM. Menurut Mardianto, pencapaian ini menandai kemajuan signifikan dalam memastikan pengelolaan obat yang berkualitas di wilayah tersebut. Proses untuk memperoleh sertifikasi CDOB sendiri dimulai sejak 23 September 2024, ketika Direktorat Pengawasan Distribusi dan Pelayanan Obat, Narkotika, Psikotropika, dan Prekursor serta tim dari Balai POM Palu melakukan kunjungan lapangan. Selanjutnya, Instalasi Farmasi Parigi Moutong melakukan perbaikan dokumen selama tiga kali hingga semua dokumen dinyatakan lengkap dan memenuhi standar yang ditetapkan. "Kami tidak ingin hanya sekadar menunggu hasil, tetapi kami mengambil langkah proaktif dan inovatif melalui Program Megalit *CDOB IFP*," lanjutnya. Dengan telah terpenuhinya standar, Instalasi Farmasi Parigi Moutong diharapkan dapat mempertahankan kualitas dalam pengelolaan obat sesuai dengan regulasi, serta terus berinovasi untuk menjamin keamanan, mutu, dan efektivitas obat yang didistribusikan kepada masyarakat. Lebih lanjut, Mardianto menjelaskan bahwa program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi yang lebih luas, menyatukan inovasi dan kemitraan antar sektor. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap obat yang diterima oleh masyarakat sudah memenuhi standar distribusi yang baik, sehingga aman dan efektif untuk digunakan. ANTARA