JAKARTA –
**Borneonews - Washington**, Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah mengeluarkan instruksi kepada Pentagon untuk melakukan evaluasi terkait kesiapan militer AS di wilayah Timur Tengah. Keputusan ini diambil setelah terjadinya serangan Israel ke Lebanon, seperti yang diumumkan oleh Gedung Putih pada hari Jumat. Dalam sebuah pernyataan resmi, Istana Kepresidenan menyampaikan bahwa Biden telah menerima beberapa pengarahan dari tim keamanan nasionalnya terkait dengan perkembangan situasi terbaru di kawasan tersebut. Dia juga memerintahkan Pentagon untuk melakukan analisis dan penyesuaian yang diperlukan pada postur angkatan bersenjata AS di Timur Tengah. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk menguatkan upaya pencegahan, melindungi personel militer, dan mendukung berbagai kepentingan AS di wilayah tersebut. Selain itu, Presiden Biden juga mendorong timnya untuk memastikan agar kedutaan besar AS di kawasan tersebut menjalankan semua prosedur perlindungan yang diperlukan guna menjaga keamanan diplomat dan stafnya. Peristiwa yang memicu langkah ini terjadi pada Jumat pagi, ketika jet tempur Israel melancarkan serangkaian serangan udara di pinggiran Beirut, Lebanon. Israel mengklaim bahwa serangan tersebut berhasil mengenai markas utama kelompok Hizbullah. Setelah serangan itu, media di Israel melaporkan bahwa tentara tengah memverifikasi keberadaan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, di lokasi yang disasar. Kementerian Kesehatan Lebanon mengungkapkan bahwa akibat serangan udara tersebut, sebanyak enam orang dilaporkan tewas dan 91 orang lainnya mengalami luka-luka. Hizbullah, hingga saat ini, belum memberikan keterangan terkait serangan yang terjadi. Sejak hari Senin, Israel telah melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon, yang menurut data dari Kementerian Kesehatan Lebanon, telah menyebabkan lebih dari 700 orang meninggal dan hampir 2.200 orang mengalami cedera. Kementerian juga melaporkan bahwa total korban jiwa di Lebanon sejak awal bulan Oktober lalu mencapai 1.540 orang, sementara lebih dari 77.000 orang terpaksa mengungsi dari wilayah selatan dan timur negara tersebut. Konflik antara Hizbullah dan Israel terjadi bersamaan dengan perang yang lebih luas di Gaza. Sejak dimulainya serangan Israel di Gaza, lebih dari 41.500 orang, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak, telah kehilangan nyawa mereka sebagai akibat dari serangan yang dilancarkan sebagai respons terhadap serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober. Masyarakat internasional semakin khawatir terkait eskalasi serangan yang mengarah ke Lebanon, dengan berbagai peringatan akan potensi terjadinya konflik berkelanjutan yang dapat meluas menjadi peperangan regional. ANTARA