**Borneonews - Sukabumi, Jawa Barat**, Keluarga Sri Erni Juniarti, seorang warga Kampung Cimaja yang berusia 40 tahun, menduga bahwa kematiannya di Suriah disebabkan oleh penganiayaan yang dilakukan oleh majikannya. Dugaan ini muncul setelah informasi yang diterima oleh keluarga dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus, Suriah.
Menurut penuturan keponakan Sri, Bambang Permadi, pada malam hari sebelum berita kematian datang, Sri sempat menghubunginya. Dalam percakapan itu, Sri mengungkapkan bahwa dirinya mengalami penyiksaan dari majikannya. Dia menceritakan bahwa akibat kesalahan kecil, majikannya memukul kepalanya dengan panci hingga menyebabkan luka dan pendarahan.
Lebih menyedihkan lagi, meskipun menderita akibat luka yang serius, Sri justru tidak dibawa untuk mendapatkan perawatan medis. Sebagai gantinya, dia dipaksa untuk terus bekerja. Dalam keadaan tertekan dan ketakutan akan perlakuan lebih buruk, Sri merasa tidak memiliki pilihan lain selain mematuhi perintah atasannya, meskipun kondisi kesehatannya semakin menurun.
Keluarga Sri mencurigai bahwa penganiayaan fisik yang dialaminya mungkin berlangsung cukup lama. Namun, Sri tidak menceritakan hal ini kepada keluarganya, terutama kepada suami dan ketiga anaknya, karena takut jika mereka akan khawatir dengan keadaannya. Bambang menyampaikan bahwa saat itu merupakan percakapan terakhir mereka. Kemudian, lima hari setelahnya, tepatnya pada Kamis, 19 September, mereka menerima kabar mengejutkan yang menyatakan bahwa Sri telah meninggal dunia karena kecelakaan kerja.
Informasi yang disampaikan oleh petugas KBRI menyebutkan bahwa Sri mengalami kecelakaan dengan terjatuh dari tangga, yang mengakibatkan pendarahan di otak. Akan tetapi, keluarga Sri meragukan kebenaran pernyataan tersebut. Mereka meyakini bahwa luka-luka yang diperoleh Sri merupakan akibat penganiayaan dan bukan sekadar kecelakaan.
Karena alasan tersebut, keluarga meminta keadilan dan berharap jenazah Sri segera dipulangkan ke kampung halamannya untuk dikebumikan dengan layak. Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Sukabumi, Jejen Nurjanah, mengungkapkan bahwa mereka baru mengetahui informasi mengenai kasus ini setelah pihak keluarga menghubungi mereka. SBMI berkomitmen untuk membantu proses pemulangan jenazah Sri dan berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait, termasuk Pemkab Sukabumi, Kementerian Luar Negeri, serta KBRI Damaskus.
Sri berangkat ke Suriah pada tahun 2022 tanpa memberi tahu banyak orang, hanya berpamitan kepada suami dan ibu angkatnya. Setelah bekerja selama delapan bulan, dia baru mampu mengabari keluarga terkait kondisinya sebelum akhirnya dilaporkan meninggal dunia. Sebelum bekerja di Suriah, Sri juga pernah menjadi pekerja migran di Arab Saudi dari tahun 2010 hingga 2012. Setelah masa kerjanya di luar negeri, dia kembali ke Sukabumi dan bekerja di pabrik selama enam tahun hingga dipecat pada tahun 2019 akibat dampak pandemi COVID-19.
ANTARA
Keluarga Duga Sri Erni Meninggal Karena Penganiayaan di Suriah
Bagikan:

BOGOR –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Ganda Putri Isyana/Rinjani Sabet Gelar Juara Indonesia Masters
Arema FC Libas Dewa United 4 Gol Tanpa Balas
Veda Ega Alihkan Fokus ke GP Malaysia Usai GP Australia Batal
Komentar (0)
Memuat komentar…







